HomeCORPORATE UPDATEBUMNHingga Agustus 2026 WIKA Garap 71 Proyek Senilai Rp40,25 Triliun

Hingga Agustus 2026 WIKA Garap 71 Proyek Senilai Rp40,25 Triliun

BusinessUpdate – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menyatakan perseroan tengah mengerjakan 71 proyek berjalan hingga Agustus 2026 dengan total nilai kontrak Rp40,25 triliun. Sebanyak 27 proyek merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan tujuh proyek berada di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Total nilai kontrak adalah sebesar Rp40,25 triliun di mana sampai dengan Agustus 2026 ini, proyek tersebut tersebar di 19 provinsi, dan juga kami membuat 18 pabrik,” kata Corporate Secretary WIKA Ngatemin dalam konferensi pers paparan publik (pubex) WIKA secara daring di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Saat ini Perseroan menetapkan dua fokus sebagai program prioritas, yakni kembali ke inti bisnis (core business) sebagai penyedia jasa konstruksi dan percepatan penyehatan keuangan.

Untuk fokus pertama, WIKA kembali memperkuat bisnis inti sebagai penyedia jasa konstruksi. WIKA menargetkan penjualan non-JO periode Januari-Desember 2026 senilai Rp13,60 triliun dengan asumsi laba kotor Rp1,25 triliun.

“WIKA didukung oleh tiga program strategis di SDM (sumber daya manusia), proses maupun teknologi, di mana harapannya terjadi peningkatan kepercayaan stakeholder sehingga mendapatkan repeat order, peningkatan reputasi perusahaan, pemulihan persepsi pasar dan pekerjaan in-store, sehingga bisa mendorong pemulihan status saham perusahaan yang saat ini sedang disuspensi,” jelasnya.

Sementara itu, fokus kedua WIKA adalah mempercepat program penyehatan keuangan perusahaan. Perseroan menjalankan tiga program utama, yakni divestasi, percepatan cash collection dan piutang, serta restrukturisasi utang.

Pertama, melalui divestasi, WIKA berencana melakukan divestasi atas anak usaha dan perusahaan asosiasi yang tidak ada keterkaitan dengan bisnis inti.

Kedua, melalui percepatan cash collection dan piutang, perseroan mempercepat penagihan piutang, klaim, hingga tagihan bruto guna meningkatkan arus kas masuk. WIKA juga melakukan perbaikan portofolio orderbook dengan skema pembayaran bulanan.

Ketiga, lewat restrukturisasi utang, perseroan melakukan renegosiasi tenor pinjaman dan penurunan tingkat bunga. “Dari klaster satu di mana margin kotor kami Rp1,2 triliun sehingga tidak bisa menutupi untuk beban-beban yang ada di bawah seperti bunga bank yang cukup tinggi dan juga ada beban lain-lain dan ekonomi. Sehingga kami perlu menyiapkan strategi di klaster dua terkait dengan financial recovery dan juga critical issue resolution dan program penyehatan WIKA,” jelasnya. (pa/jh. Foto: Dok. WIKA)

Must Read