BusinessUpdate – PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) membukukan pendapatan sebesar Rp1,15 triliun hingga September 2026, meningkat 5,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,09 triliun. kednati demikian laba perseroan tertekan akibat kenaikan biaya operasional, terutama melonjaknya harga bahan bakar.
Direktur Utama Jasa Armada Indonesia, Dwi Rahmad Toto mengatakan pertumbuhan pendapatan hingga kuartal III/2026 mencerminkan kemampuan perseroan menjaga kinerja usaha di tengah tekanan industri dan tantangan ekonomi.
Ke depan, IPCM akan berfokus memperkuat bisnis inti dan mengoptimalkan potensi pertumbuhan melalui peningkatan utilisasi armada, pengendalian biaya, serta perluasan pasar secara selektif. “Kami meyakini langkah tersebut akan memperkuat daya saing perseroan sekaligus menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ujar Toto dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 September 2026, pendapatan IPCM terutama ditopang oleh jasa pelayanan kapal yang mencapai Rp1,11 triliun atau sekitar 96,51% dari total pendapatan. Kontribusi terbesar berasal dari jasa penundaan kapal sebesar Rp1,05 triliun, tumbuh 7,74% secara tahunan (yoy).
Sementara, jasa pemanduan kapal menyumbang pendapatan sebesar Rp58,80 miliar. Adapun, pendapatan dari jasa pengangkutan dan lainnya sebesar Rp40,18 miliar. Angka itu meningkat 8,70% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pendapatan tumbuh, beban pokok pendapatan IPCM meningkat menjadi Rp941,23 miliar hingga September 2026, dibandingkan Rp824,30 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan beban menekan laba bruto perseroan menjadi Rp210,42 miliar, dari sebelumnya Rp269,07 miliar.
Sejalan dengan itu, laba bersih IPCM turun menjadi Rp94,13 miliar hingga September 2026, dibandingkan Rp140,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba disebabkan kenaikan harga bahan bakar.
Untuk merespons tekanan biaya, IPCM mengoptimalkan pola operasional dan meningkatkan utilisasi armada. Perseroan juga mengelola pemeliharaan kapal secara terencana agar menjaga keandalan layanan sekaligus mendukung profitabilitas.
Pada kuartal III/2026, optimalisasi pola operasional turut mendukung pertumbuhan pendapatan melalui pemanfaatan armada yang lebih baik dan peningkatan respons pelayanan kepada pelanggan. Upaya tersebut ditujukan memperpendek waktu tunggu kapal di pelabuhan.
Selain itu, IPCM mendorong pemanfaatan teknologi pendukung operasional, seperti inverter atau sistem hibrida, panel surya, shore connection atau sambungan listrik dari darat, serta harbour generator ketika kapal tidak beroperasi secara penuh.
Dari sisi pengembangan bisnis, perseroan memperkuat sinergi di lingkungan Pelindo Group sekaligus menjajaki peluang pasar di luar ekosistem grup. Langkah ini diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan dan mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.
Dari sisi keuangan, total aset IPCM per 30 September 2026 mencapai Rp1,75 triliun, meningkat 1,98% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp1,71 triliun. Aset lancar perseroan juga naik 5,53% menjadi Rp1,07 triliun, dari Rp1,02 triliun pada akhir tahun lalu. Selain itu, IPCM mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp165,77 miliar hingga September 2026.
Ke depan, IPCM menargetkan penguatan kinerja melalui peningkatan produktivitas armada, efektivitas operasional, pengembangan pasar, dan penguatan sinergi dalam ekosistem Pelindo Group. (ip/jh. Foto: Dok. IPCM)


