BusinessUpdate – Bola bundar selalu jadi idiom dan dalih ketika prediksi sebagian besar pengamat dan penonton terjungkirkan prediksinya. Hal ini juga yang terjadi ketika Tim sepak bola Maroko menghempaskan Spanyol dan memaksa tetangga berbatas selat tersebut untuk berkemas lebih dini. Maroko mengantar pulang Spanyol melalui drama adu penalti yang berkesudahan 3-0 untuk keunggulan Maroko dan mengantarkan Singa Atlas ke perempat final Piala Dunia Qatar 2022.
Bukan hanya berprestasi di sepak bola, Maroko juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi mentereng. Pada tahun 2021, sebagaimana diungkap sindonews.com, ekonomi Maroko tumbuh 7,4%. Tetapi untuk ukuran lain Maroko masih jauh di bawah Indonesia. PDB per kapita negara yang memiliki garis pantai sangat panjang di Samudera Atlantik ini hanya sebesar USD3.496,76 (2021). Angka itu masih kalah oleh Indonesia yang sebesar USD4.291,81. Tak cuma itu, PDB Maroko yang sebesar USD132,7 miliar (2021) juga tak ada apa-apanya dibanding Indonesia yang mencapai USD1,18 triliun. Secara demografi dan geografis, Maroko juga “lewat” oleh Indonesia. Negara dengan luas 446.550 km2 ini hanya dihuni dengan populasi sebanyak 37,3 juta jiwa (2021). Luas itu tak lebih lebar dari Pulau Sumatra yang 473.481 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 58,56 juta jiwa.
Ekonomi Maroko dianggap sebagai ekonomi yang relatif liberal, diatur oleh hukum penawaran dan permintaan. Sejak tahun 1993, Maroko mengikuti kebijakan privatisasi sektor ekonomi tertentu yang dulu berada di tangan pemerintah. Maroko telah menjadi pemain utama dalam urusan ekonomi Afrika, dan merupakan ekonomi Afrika terbesar ke-5 berdasarkan PDB (PPP). Forum Ekonomi Dunia menempatkan Maroko sebagai ekonomi paling kompetitif pertama di Afrika Utara, dalam Laporan Daya Saing Afrika 2014–2015.
Sektor jasa menyumbang lebih dari setengah dari PDB dan sektor industri–yang terdiri dari pertambangan, konstruksi, dan manufaktur–merupakan tambahan seperempat. Sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah sektor pariwisata, telekomunikasi, dan tekstil. Maroko masih menggantungkan pada sektor pertanian yang menyumbang sekitar 14% dari PDB tetapi mempekerjakan 40–45% dari populasi Maroko. Dengan iklim semi-kering, sulit untuk memastikan curah hujan yang baik dan PDB Maroko bervariasi tergantung cuaca.
Sistem ekonomi negara ditandai dengan keterbukaan yang besar terhadap dunia luar. Di dunia Arab, Maroko memiliki PDB non-minyak terbesar kedua setelah Mesir pada 2017. PDB per kapita yang tinggi tidak menjamin keunggulan sepak bola. Hanya 14 negara di antara 50 negara teratas dalam PDB/kap yang ada di Piala Dunia. Maroko adalah produsen fosfat terbesar ketiga di dunia (setelah Amerika Serikat dan Cina), dan fluktuasi harga fosfat di pasar internasional sangat mempengaruhi perekonomian Maroko. Pariwisata dan pengiriman uang pekerja telah memainkan peran penting sejak kemerdekaan. Produksi tekstil dan pakaian jadi merupakan bagian dari pertumbuhan sektor manufaktur yang mencapai sekitar 34% dari total ekspor pada tahun 2002, mempekerjakan 40% tenaga kerja industri. Pemerintah ingin meningkatkan 3 ekspor dari USD1,27 miliar pada tahun 2001 menjadi USD3,29 miliar pada tahun 2010. Tingkat pengangguran kaum muda di Maroko adalah 42,8% pada tahun 2017. Sekitar 80% pekerjaan bersifat informal dan kesenjangan pendapatan sangat tinggi.
Pada tahun 2018, Maroko menempati peringkat ke-121 dari 189 negara di dunia dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), di belakang Aljazair (ke-82) dan Tunisia (ke-91). Ini adalah negara yang paling tidak setara di Afrika Utara menurut LSM Oxfam. (spm/foto: Reuters melalui sindonews.com)


