Businessupdate – Pemerintah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 mencapai Rp464,3 triliun, lebih rendah dari target yang ditetapkan.
Defisit tersebut setara 2,38% dari Produk Domestik Bruto (PDB) RI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, defisit APBN ini lebih rendah dari target APBN awal Rp868 triliun maupun target yang revisi di Perpres Nomor 98 Tahun 2022 sebesar Rp840,2 triliun.
Jika dibandingkan defisit APBN 2021 yang sebesar Rp775,1 triliun, defisit fiskal tahun 2022 turun 40,1%. Angka defisit ini juga terus turun dibandingkan awal pandemi 2020 yang mencapai Rp947,7 triliun.
“Kontraksi dari defisit kita ini menunjukkan konsolidasi fiskal yang sungguh sangat luar biasa,” ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (3/1/2023).
Adapun defisit APBN yang lebih rendah terjadi karena adanya kenaikan penerimaan negara yang melebihi 100%. Menurut Sri Mulyani, pendapatan negara sepanjang 2022 mencapai Rp2.626,4 triliun atau terealisasi 115,9% dari target APBN yang sebesar Rp1.846,1 triliun.
Pendapatan negara tumbuh sebesar 30,6% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp1.846,1 triliun. Realisasi pendapatan negara ini lebih besar dari target awal APBN 2022 sebesar Rp1.846 triliun maupun target revisi di Perpres 98 Rp2.266 triliun.
“Realisasi ini adalah 115,9% dari Perpres 98 yang sudah direvisi. Kalau dibandingkan dengan APBN awal ini sudah naiknya udah kemana-mana, sudah luar biasa lebih tinggi,” ujar Sri Mulyani.
Realisasi pendapatan tersebut terdiri dari penerimaan pajak yang tumbuh 34,3% (yoy) mencapai Rp1.716,8 triliun, atau sudah mencapai 115,6% dari target revisi APBN Rp1.485 triliun.
Sementara itu kepabeanan dan cukai mencapai Rp317,8 triliun atau tumbuh 18%. Bea dan cukai ini sudah mencapai 106,3% dari target APBN yang sudah direvisi Rp299 triliun.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tumbuh 28,3% (yoy) menjadi Rp588,3 triliun. Hingga Desember 2022, realisasinya mencapai 122,2% terhadap APBN.
Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani menjelaskan belanja negara hingga Desember 2022 mencapai Rp3.090,8 triliun. Realisasinya meningkat 10,9% dibanding tahun lalu (year on year/yoy). Angkanya setara dengan 99,5% dari target yang sudah direvisi Rp 3.106,4 triliun.
Belanja negara melonjak terutama pada belanja untuk perlindungan pada masyarakat dalam bentuk subsidi kompensasi dan berbagai bantuan sosial.
Jika dirinci, belanja pemerintah pusat sudah mencapai Rp2.274,5 triliun atau 98,8% dari pagu Rp2.301,6 triliun. Realisasi ini naik sebesar 13,7% secara tahunan (yoy). Belanja pemerintah pusat ini terdiri dari belanja K/L Rp1.079,3 triliun atau 114,1% dari pagu yang sebesar Rp945,8 triliun dan belanja non K/L Rp1.195,2 triliun atau 88,2% dari pagu Rp 1.355,9 triliun.
Sementara itu, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) mencapai Rp816,2 triliun atau terdapat selisih Rp78 triliun dari target APBN Rp804,8 triliun. Adapun pembiayaan anggaran terealisasi Rp583,5 triliun atau 69,5% dari pagu Rp840,2 triliun. Pembiayaan anggaran ini -33,1% (yoy) dibanding tahun lalu sebesar Rp871,7 triliun. (rn/jh)


