BusinessUpdate – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menjalin kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk berupaya menurunkan angka stunting atau gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk.
Menurut Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, David Utama, dengan klinik miliknya yang berjumlah 400, BKKBN dapat bekerja sama dalam hal penyuluhan, pemeriksaan, hingga skrining.
“Dalam upaya penanganan stunting, kami memfasilitasi penyaluran, dan bermitra dengan pemerintah. Bersama BKKBN, kita punya 400 klinik untuk mendorong program penyuluhan, pemeriksaan, hingga skrining,” kata David di Jakarta, Selasa malam (7/3/2023).
Sementara itu, Direktur Utama Kimia Farma Laboratorium & Klinik, Ardhy Nugrahanto Wokas mengungkapkan, dengan menjalin kerja sama bersama BKKBN, akan ada sinergi atau bridging sistem untuk melakukan upaya-upaya menekan stunting.
“Kita sudah siap, kita akan ber-partner dengan BKKBN, melalui (integrasi) aplikasi yang nantinya akan diisi oleh calon pengantin yang akan melakukan pemeriksaan (sebelum menikah), dan ini tersertifikasi,” kata Ardhy.
Ia melanjutkan, pihaknya bersama BKKBN juga akan menyelenggarakan kelas pra nikah, atau kursus bagi para calon pengantin untuk memberikan edukasi-edukasi secara sederhana, termasuk psikologi pengantin, hingga cara menata rumah tangga.
“Sistem ini sudah berjalan, dan ada bridging system yang akan terkoneksi langsung dengan aplikasi milik BKKBN. Itu merupakan konsep awal kita, karena kita yakin dan percaya dengan melakukan kontrol terhadap calon pengantin, akan mampu menekan stunting hingga 14%,” tegasnya.
Sebagai informasi, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI, Hasto Wardoyo mengharuskan pada calon pengantin melakukan pemeriksaan kesehatan di faskes yang tersedia.
Hal ini sebagai upaya pencegahan stunting demi mewujudkan penurunan stunting nasional hingga 14% pada 2023. Menurut hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang baru dirilis, stunting nasional sebesar 21,6%. (rn/jh)


