HomeCORPORATE UPDATEBUMNLaba Dipatok 10%, KCI Pilih Beli KRL Bekas

Laba Dipatok 10%, KCI Pilih Beli KRL Bekas

BusinessUpdate – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Didiek Hartantyo menyatakan, salah satu alasan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)  memilih impor KRL bekas adalah harga yang lebih murah. 

Di hadapan anggota Komisi VI DPR, Didiek mengatakan kemampuan PT KCI untuk membeli KRL baru sangat terbatas karena keuntungan PT KCI hanya dipatok 10% akibat adanya public service obligation (PSO). 

Untuk pengadaan 16 trainset kereta baru melalui PT INKA saja, PT KCI membutuhkan modal dari PT KAI sekitar Rp800 miliar hingga Rp1 triliun dan sisanya dengan utang. 

“Kemampuan KCI untuk membeli kereta baru itu sangat terbatas,” ujarnya saat RDP dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/3/2023). Menurutnya, harga 1 KRL baru sebesar Rp20 miliar sehingga 1 trainset KRL baru mencapai Rp200 miliar. 

Angka tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli KRL impor bekas. Harga 1 KRL impor bekas seharga Rp1,6 miliar sehingga 1 trainset KRL impor bekas menjadi Rp16 miliar. Jika membeli KRL baru biaya operasional pasti akan membengkak. 

Selain lebih murah, KRL bekas pun setelah dilakukan konservasi masih dapat digunakan hingga 15 tahun tergantung jaminan suku cadang atau sparepart-nya. Bahkan setelah lewat dari 15 tahun, KRL bekas ini masih dapat dilakukan retrofit atau modifikasi teknologi dan fitur sehingga bisa digunakan kembali hingga lebih dari 10 tahun. 

“Setelah diimpor, selama jaminan sparepart-nya masih memadai itu masih bisa jalan. Dan saya bertanggung jawab mengenai keselamatan, kalau memang kereta-kereta itu tidak layak dijalankan, tidak layak keselamatan, saya akan hentikan,” tutupnya. (rn/jh)

Must Read