BusinessUpdate – Awalnya Dewi Muliaty ikut magang di PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) karena ajakan dosennya. Tak terbersit dalam benaknya untuk menjadi Direktur Utama perseroan seperti saat ini.
Ia magang di Prodia pada 1987, saat ia studi Profesi Apoteker di Universitas Padjadjaran, Bandung. Yang mengajaknya magang adalah Andi Widjaja, pendiri sekaligus Direktur Utama pertama di Prodia yang kini menjadi Komisaris Utama Prodia.
Setelah magang selama enam bulan, Dewi merasa tertarik dengan Prodia karena di tempat ini ia bisa banyak belajar hal baru. Ia juga melihat sosok Andi yang disiplin dan selalu belajar, membagikan ilmu-ilmu baru dan mengembangkannya di Prodia.
Kegigihan dosennya untuk mengembangan sesuatu yang bernilai ilmiah menjadi sebuah bisnis, menarik perhatian Dewi. Apalagi, Prodia memiliki perpustakaan dengan banyak buku dan jurnal baru yang kala itu susah diakses, tak tersedia di perpustakaan universitas kenamaan sekalipun.
“Ternyata buku dan jurnalnya itu baru. Jadi buat saya itu tuh mewah sekali,” kata Dewi seperti dikutip Kompas. Saat itu ia berada di bagian QC (quality control), di mana buku dan jurnal tak sebanyak di bagian R&D (research and development).
Akhirnya, Dewi memutuskan melanjutkan karirnya di Prodia sebagai Asisten Manajer Teknis di bagian Quality Control (QC), dan karirnya terus menanjak hingga menjabat sebagai Manajer Penelitian dan Pengembangan pada 1994.
Pada 2003, ia dipercaya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis, hingga akhirnya menjabat sebagai Direktur Utama sejak 2009. Kini hampir 14 tahun Dewi mengemban amanat sebagai Dirut di Prodia.
Meski menjadi bagian dari Prodia ketika perusahaan berusia 14 tahun sejak didirikan pertama kali di Solo pada 1973, namun Dewi tetap memiliki perjalanan panjang mendampingi Prodia hingga mencapai usia 50 tahun di 2023.
Saat bergabung pada 1987, kala itu Prodia masih berkantor di rumah tua yang berlokasi di Bandung dengan memiliki 9 cabang laboratorium. Pada tahun itu, Prodia memang sedang mengembangkan layanannya di kota Jakarta dan Bandung.
Perjalanan panjang membuat perusahaan berkembang dengan memiliki bangunan kantor pada 2008 yang berlokasi di Jakarta Pusat atau kini dikenal dengan Prodia Tower.
Sejalan dengan pengembangan itu, hingga awal 2023, Prodia pun sudah memiliki 152 cabang laboratorium, serta sekitar 250 outlet yang di antaranya bekerja sama dengan rumah sakit dan fakultas kesehatan perguruan tinggi. (pa. Foto: Tabloid Bintang)


