BusinessUpdate – Kecubung yang memiliki nama Latin Datura metel, dari famili Solanaceae adalah tanaman beracun. Namun, kecubung memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam pengobatan.
Menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania, kendati beracun, kecubung sebenarnya sering dimanfaatkan sebagai antijamur, antibakteri, antikanker, antiinflamasi, antirheumatoid, dan obat bius.
Bukan hanya itu, tanaman ini juga bermanfaat sebagai antitusif, bronkodilator, halusinogen, hingga pestisida alami. “Kecubung mengandung flavonoid, fenol, tanin, saponin, dan steroid atau terpenoid sebagai fitokonstituen utama,” ujarnya seperti dikutip oleh Kompas, Minggu (7/5/2023).
Kata Inggrid, racun dari kecubung merupakan efek dari zat atropin dan skopolamin. Ia pun menegaskan, semua bagian tanaman kecubung tidak boleh dimakan langsung karena bersifat halusinogen, narkotik, dan psikoaktif.
“Tanaman ini bahkan diremas dan ditempelkan di dahi saja bisa menimbulkan efek tak diinginkan,” lanjutnya.
Adapun gejala keracunan akibat kecubung, antara lain mulut kering, sembelit, mata sensitif terhadap cahaya, dan sakit mata. Inggrid menambahkan, kecubung juga dapat mengakibatkan masalah mental maupun perilaku permanen, bahkan hingga kematian.
Secara terpisah, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menerangkan, kecubung adalah tanaman yang banyak dijumpai di wilayah beriklim sedang dan tropis, termasuk Indonesia.
Menurutnya, tanaman ini mengandung senyawa alkaloid yang cukup toksik atau beracun bernama skopolamin, hyoscyamine, dan atropine. “Alkaloid dalam kecubung dapat menyebabkan efek delirium/tidak sadar, sedasi/penenang, dan halusinasi yang sangat nyata, di samping efek samping fisik yang sangat tidak nyaman dan disforia,” ujarnya.
Penggunaan kecubung secara berlebihan dapat membahayakan karena efek psikoaktif pada sistem saraf pusat. Seseorang yang mengonsumsi buah ini akan mengalami gejala yang mengarah pada psikotik, bahkan menyebabkan kematian.
Zullies mengatakan, seseorang yang telah mengonsumsi kecubung harus dibawa ke rumah sakit dan diberi obat dengan efek berlawanan sebagai penawar racun. Obat yang bekerja sebaliknya tersebut, seperti fisostigmin, bekerja dengan menghambat penguraian asetilkolin.
“Fisostigmin bekerja dengan cara membalikkan toksisitas antikolinergik,” terangnya. Nantinya, fisostigmin harus diberikan secara injeksi intravena kepada orang dewasa dengan dosis 0,5-2,0 miligram dan kecepatan tidak lebih dari 1 miligram/menit. Dosis kedua dapat diberikan jika dibutuhkan. (rn/jh)


