BusinessUpdate – Anggota holding BUMN PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Petrokimia Gresik memperkenalkan pupuk berteknologi nano yang merupakan pupuk nano nitrogen pertama di Indonesia pada pameran dan gelar teknologi Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVI.
Pada pameran yang berlangsung dari 10-15 Juni 2023 di Padang, Sumatera Barat itu Petrokimia Gresik mengenalkan inovasi pertanian pintar alias smart precision farming.
Menurut Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo, dalam program smart precision farming apihaknya memamerkan pupuk berteknologi nano yang merupakan pupuk nano nitrogen pertama di Indonesia.
Harapannya, pupuk ini juga akan melengkapi jajaran produk pupuk berkualitas Petrokimia Gresik yang diminati petani, sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah melalui pemanfaatan teknologi modern dan internet of things (IoT), sehingga menghasilkan budidaya yang efektif, efisien, dan presisi dalam pemupukan.
“Dengan program ini, dapat mendorong peningkatan produktivitas pertanian yang pada akhirnya dapat berdampak positif pada kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional,” ujar Dwi melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (12/6/2022).
Pada pameran yang dibuka oleh Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo itu, Dwi mengungkap bahwa pihaknya akan menyiapkan operator bersertifikat dan teknologi drone untuk mengawal pilot project program pertanian pintar dengan pupuk berteknologi nano tersebut.
“Sehingga program ini bisa diduplikasi petani lain di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memajukan pertanian di Tanah Air,” tambahnya. Petrokimia Gresik akan melengkapi petugas lapang, Mobil Uji Tanah dan agroman, dengan 2 jenis perangkat drone, yaitu drone untuk mengukur indeks vegetasi serta drone untuk pengaplikasian pupuk.
Setelah itu, petani akan mendapatkan rekomendasi pemupukan berdasarkan pemrosesan data kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman yang diperoleh dari Mobil Uji Tanah dan drone, sehingga pemupukannya presisi sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pengukuran indeks vegetasi tanaman yang nantinya akan diterjemahkan menjadi rekomendasi pemupukan menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), sedangkan pengaplikasian pupuk dengan drone dapat menggunakan pupuk nano maupun granul.
Sebelumnya, progres dari program Smart Precision Farming ini telah ditinjau langsung oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu di Gresik. Salah satu fungsi utama pemanfaatan teknologi drone, yakni menghemat biaya produksi bagi petani.Â
Dwi menjelaskan bahwa salah satu item cost yang mahal dalam budidaya pertanian adalah tenaga kerja. Sedangkan drone, cukup dioperasikan oleh satu orang, bisa menjangkau hingga 20 hektare lahan setiap harinya. (rn/jh)


