HomePROPERTYAdhi Karya Buka Suara Soal Desain Jembatan Longspan LRT Jabodebek

Adhi Karya Buka Suara Soal Desain Jembatan Longspan LRT Jabodebek

BusinessUpdate – PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) membeberkan desain pembangunan jembatan lengkung bentang panjang (longspan) LRT Gatot Subroto-Kuningan yang dibilang salah desain oleh Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo. 

Sekretaris Perusahaan ADHI Farid Budiyanto meminta publik untuk melihat video resmi milik perseroan yang diunggah di kanal Youtube AdhikaryaID pada November 2019. Video itu menjelaskan longspan LRT Jabodebek Gatot Subroto-Kuningan dibangun pada ketinggian level 4, yang berada di atas underpass atau lintas bawah, jalan arteri, dan fly over

Jembatan ini juga dibangun di wilayah dengan tingkat volume lalu lintas tinggi. Dengan kondisi tersebut, metode konstruksi yang digunakan pada jembatan longspan LRT adalah form traveler (cast in situ). Sebagai informasi, cast in situ merupakan salah satu pekerjaan pembuatan beton secara langsung di lapangan kerja. 

Form traveler dapat mengakomodir vertikal precamber sesuai desain. Form traveler juga dapat mengakomodir horizontal precamber sesuai desain,” tertulis dalam penjelasan video ADHI. 

Perseroan dalam video tersebut menyatakan bahwa akibat radius lengkung yang kecil, jembatan longspan Kuningan akhirnya mengalami efek torsi yang cukup besar. Hal ini lantas diantisipasi lewat penambahan prestress tendon pada pier. 

“Efek torsi dimitigasi dengan menambahkan prestress tendon pada pier. Vertical stressing dilakukan sesuai dengan urutan desain yang direncanakan,” jelas video tersebut. 

ADHI juga menjelaskan pekerjaan hanya dapat dilakukan pukul 23.00 – 04.00 WIB. Sebanyak 17 segmen box girder dipasang sampai jembatan batang panjang tersambung. Pekerjaan setiap segmen membutuhkan waktu 10-14 hari, mulai dari pengecoran hingga stressing. 

Sebelumnya, Kartika Wirjoatmodjo alias Tiko mengatakan terdapat kesalahan desain pada jembatan longspan dari Gatot Subroto ke Kuningan. ADHI, selaku penanggung jawab, disebut membangun jembatan tanpa menguji sudut kemiringan kereta. 

Menurutnya, jembatan tersebut seharusnya dibuat lebih lebar agar kereta dapat melaju dengan optimal. Akibatnya, rangkaian kereta LRT Jabodebek kini harus berbelok dengan kecepatan yang pelan, sekitar 20 kilometer per jam, saat melewati jembatan ini. 

Adapun Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan dan Penguatan Kewilayahan, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai pernyataan Tiko tidak realistis karena wajar jika kecepatan kendaraan akan berkurang saat melintasi berbagai tikungan. (rn/jh) 

Must Read