BusinessUpdate – PT PLN (Persero) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SMGR menjalin kerja sama untuk mendorong penggunaan listrik berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di area operasi Semen Indonesia. Kedua perusahaan pun meneken Memo of Understanding (MoU).
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk bersinergi dengan Semen Indonesia dalam hal penurunan emisi karbon dan pengembangan EBT dalam skala besar.
“Sinergitas tersebut berpadu dalam menciptakan ketersediaan energi ramah lingkungan bagi industri di tanah air. Saya mengapresiasi, ini hanyalah langkah awal. Semoga sesudah tanda tangan MoU ini segera bisa kita mulai, dalam waktu 1 atau 2 bulan ini,” kata Darmawan melalui siaran pers, Selasa (19/8/2023).
Sementara itu, Direktur Utama SMGR, Donny Arsal mengungkapkan, sebagai dua perusahaan plat merah, terlaksananya kesepakatan ini diharapkan mendorong implementasi energi bersih untuk mencapai target net zero emission.
“Kerja sama antara SMGR dan PLN diharapkan meningkatkan porsi penggunaan EBT dan mendukung tercapainya target Perusahaan dalam menurunkan intensitas emisi CO2 Scope 2 sebesar 24% pada 2030 dari baseline 2019 seperti tertuang dalam Sustainability Road Map SMGR,” ujar Donny.
Melalui MoU ini, Darmawan memastikan pihaknya siap memfasilitasi SMGR menghadirkan industri hijau melalui sumber EBT dalam operasinya untuk memenuhi kebutuhan listrik di pabrik SMGR dengan konsep keberlanjutan.
“PLN memfasilitasi SMGR untuk go green, agar ke depan porsi listrik SMGR dari sumber yang ramah lingkungan dapat terus meningkat,” ujar Darmawan.
Menurut Donny, PLN memiliki sumber daya yang kuat dalam investasi dan pengoperasian pembangkit listrik berbasis EBT. Di sisi lain, SMGR merupakan pengguna listrik berskala besar, dengan tingkat penggunaan energi listrik sekitar 2,9 terrawatt hour (TWh) per tahun atau senilai Rp2,9 triliun per tahun untuk proses produksi semen.
“Mudah-mudahan kerja-sama ini bisa segera memberikan kontribusi positif untuk pengurangan emisi dan efek rumah kaca, serta memberikan support bagi program transisi energi Pemerintah,” tambah Donny.
Saat ini SMGR memiliki lahan berupa atap bangunan, lahan, dan kolam, yang berpotensi digunakan untuk implementasi panel surya hingga 572 MegaWatt peak (MWp), di mana 541 MWp di antaranya adalah potensi di atas permukaan tanah (ground mounted) dan di atas permukaan air (floating) di 9 lokasi.
Lokasi-lokasi tersebut yakni, di Semen Indonesia Ghopo Tuban, PT Semen Gresik Pabrik Rembang, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) Pabrik Tuban, SBI Pabrik Narogong, SBI Pabrik Cilacap, SBI Pabrik Loknga, PT Semen Baturaja Tbk. Pada tahap awal, rencana implementasi sebesar 5,4 MWp – 32 MWp per lokasi. Selebihnya akan dibangun proyek solar panel secara bertahap hingga tahun 2030.
Darmawan menambahkan, dorongan penggunaan energi bersih bukan semata karena Indonesia harus mematuhi kesepakatan internasional untuk menekan emisi, tetapi sudah menjadi keharusan untuk menuju Net Zero Emission pada 2060. (rn/jh. Foto: Dok SMGR)


