Home Blog Page 5

IPB University Luncurkan Rendang Domba Premium Tahan Tiga Tahun

BusinessUpdate – Tim Fakultas Peternakan IPB University mengembangkan rendang daging domba premium yang diolah dengan teknologi “sheeplight” dan bisa tahan disimpan selama tiga tahun. Penelitian untuk mengembangkan rendang daging domba sudah dimulai sejak 2016.

Peneliti IPB University sekaligus inovator redang domba premium Prof Asep Gunawan mengatakan kehadiran rendang domba premium dilatarbelakangi tantangan konsumsi daging domba yang dikenal beraroma kuat, bertekstur alot, serta berkandungan lemak dan kolesterol yang kerap dikeluhkan konsumen.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menggunakan teknologi SheepLight berbasis loop-mediated isothermal amplification (LAMP) untuk mendeteksi penanda genetik dalam seleksi domba premium,” kata Asep dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026). Sasarannya menciptakan daging yang lebih empuk, beraroma khas lebih rendah, dan berprofil asam lemak lebih baik.

Selain itu, rendang dipilih sebagai produk hilirisasi karena telah dikenal mancanegara dan memiliki identitas yang kuat. Pendekatan ini menghasilkan diferensiasi kualitas yang menjadi keunggulan produk akhir.

Pengembangan domba premium melibatkan kelompok peternak dan pemangku kepentingan di tujuh provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Jambi, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Kolaborasi mencakup pembibitan, seleksi ternak, pendampingan budi daya, hingga penguatan manajemen pemeliharaan.

Tantangan berikutnya adalah pengendalian proses pengolahan. Asep menjelaskan, agar tahan lama, pengalengan dikombinasikan dengan sterilisasi termal.

Prosesnya mencakup pemilihan bahan baku, persiapan daging, pengolahan dengan bumbu rendang, pengisian kaleng, hingga penutupan kemasan secara hermetis. Produk kemudian disterilisasi dengan retort (mesin steril) dengan kombinasi suhu dan waktu yang sesuai.

Hasilnya, produk aman disimpan pada suhu ruang tanpa fasilitas pendingin, sehingga membuka peluang distribusi ke wilayah yang terbatas fasilitas pendinginnya. Hal ini membuka peluang distribusi yang luas ke wilayah yang terbatas fasilitas pendingin.

“Melalui rendang domba premium, kami ingin menunjukkan bahwa hasil penelitian pemuliaan ternak dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” jelas Asep.

Potensi pasar dijajaki melalui komunitas diaspora Indonesia dan konsumen kuliner Asia, khususnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Upaya ini membuka peluang bagi rendang domba premium menjangkau pasar lebih luas sekaligus meningkatkan nilai tambah produk peternakan lokal.

“Bagi kami, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Melalui hasil penelitian ini kami dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” tutupnya. (pa/jh. Foto: Dok. IPB Univeristy)

Pelita Air Gandeng Dua Perusahaan untuk Pemeliharaan dan Perawatan Pesawat

BusinessUpdate – PT Pelita Air Service menggandeng dua mitra global di bidang Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) yakni MTU Maintenance dan KarbonMRO guna memastikan keandalan dan keselamatan setiap penerbangan.

Direktur Utama Pelita Air Service Faik Fahmi mengatakan proses pemeliharaan, perbaikan dan perawatan pesawat secara menyeluruh membutuhkan perencanaan jangka panjang, tenaga ahli, serta ketersediaan fasilitas dan suku cadang.

“Kesiapan inilah yang menjadi salah satu tulang punggung Pelita Air dalam menjaga ketepatan waktu (On-Time Performance/OTP),” kata Faik dalam keterangan resmi dikuti Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, komitmen kepada pelanggan tersebut diwujudkan Pelita Air dengan memperkuat ekosistem perawatan armada Airbus A320 bersama dua mitra global, MTU Maintenance dan KarbonMRO. Melalui kesepakatan yang telah diresmikan dalam ajang MRO Asia-Pacific 2026 di Singapura, Pelita Air memadukan kebutuhan pemeliharaan mesin dengan pengembangan kapabilitas teknis masa depan.

Dengan memperluas akses terhadap keahlian, fasilitas, dan dukungan teknis yang mumpuni, maskapai itu ingin memastikan armada pesawat Pelita Air selalu dalam kondisi prima demi keselamatan dan kenyamanan pelanggan.

Bagi Pelita Air, investasi di balik pintu hanggar tersebut bermuara pada satu tujuan utama, yakni menjaga kepercayaan pelanggan melalui keandalan armada dan kualitas layanan penerbangan.

“Pemeriksaan dan perawatan mesin pesawat, kesiapan talenta, serta kolaborasi global terus mengawal setiap perjalanan. Lewat pekerjaan sehari-hari itulah keandalan penerbangan dirawat,” katanya.

Sementara itu, President & CEO MTU Maintenance, Gert Wagner mengatakan kerja sama dengan MTU Maintenance disepakati untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Fokusnya adalah merawat mesin CFM56-5B yang menggerakkan 16 pesawat Airbus A320 Pelita Air. “Kami bangga dapat menghadirkan keahlian global kami untuk mendukung Pelita Air,” kata Gert.

Ia menambahkan pertumbuhan pasar penerbangan di Asia-Pasifik perlu diiringi dengan peningkatan perhatian perusahaan terhadap kebutuhan pelanggannya.

Jika kolaborasi dengan MTU Maintenance berfokus pada dukungan perawatan mesin, kesepahaman dengan KarbonMRO membuka ruang pengembangan sumber daya manusia, pertukaran keahlian, pemanfaatan fasilitas dan dukungan suku cadang untuk mesin CFM56.

Co-Founder & Managing Director KarbonMRO Kevin Teoh mengatakan melalui nota kesepahaman itu, pihaknya melihat peluang untuk memadukan kemampuan Pelita Air dan KarbonMRO yang saling melengkapi guna mendukung pengembangan kapabilitas pemeliharaan mesin pesawat.

Kevin juga menyoroti pentingnya pengembangan tenaga ahli di balik kerja sama teknis tersebut. Selain kerja sama teknis dan operasional, ia berharap dapat bekerja bersama Pelita Air untuk memajukan pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran pengetahuan. (rn/jh. Foto: Dok. Pelita Air)

Pendapatan Garuda Indonesia Capai US$2,71 Miliar Hingga September 2026

BusinesUpdate – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar US$2,71 miliar, tumbuh 13,2% secara tahunan (yoy) sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Menurut Garuda Indonesia, pendapatan tersebut meningkat US$316,4 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan terjadi di tengah tekanan biaya operasional, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur.

Paada Januari-September 2026, beban bahan bakar Garuda Indonesia Group meningkat 42,9% secara tahunan atau setara US$309,8 juta. Kenaikan beban bahan bakar tersebut turut mendorong beban operasional Grup yang naik 15,7% secara tahunan.

Meski demikian, Garuda Indonesia Group membukukan laba usaha sebesar US$97,2 juta. Sementara itu, rugi periode berjalan secara konsolidasi menyusut 3% secara tahunan menjadi US$179,3 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro mengatakan, perkembangan kinerja hingga September 2026 memberikan indikasi positif terhadap arah transformasi perusahaan, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan potensi bisnis di seluruh Grup.

“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup. Meningkatnya pendapatan bisnis non-penerbangan mencerminkan potensi pengembangan kapabilitas dan sinergi antarentitas usaha yang terus kami optimalkan sebagai bagian dari transformasi, guna memperkuat ketahanan bisnis dan mendukung pemulihan kinerja keuangan secara berkelanjutan,” ujar Thomas dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (30/10/2026).

Berdasarkan komposisinya, bisnis penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pendapatan Garuda Indonesia Group. Pendapatan dari segmen tersebut meningkat 12,6% secara tahunan atau setara US$233,2 juta.

Adapun pendapatan penerbangan tidak berjadwal tumbuh 2,1% atau sebesar US$6,3 juta. Di luar bisnis penerbangan, pendapatan dari lini usaha non-penerbangan tumbuh lebih tinggi, yakni 31,3% menjadi US$322,8 juta. Nilai tersebut meningkat US$77 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan non-penerbangan antara lain ditopang kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF AeroAsia) sebesar 42,4%. Selain itu, pendapatan layanan agen perjalanan meningkat 76,1%.

Thomas mengatakan, perusahaan terus mengoptimalkan potensi bisnis non-penerbangan sebagai salah satu sumber pertumbuhan, sekaligus memperkuat kontribusi seluruh entitas usaha dalam ekosistem Grup. Menurutnyaa, optimalisasi potensi seluruh entitas usaha juga menjadi bagian dari strategi transformasi yang dijalankan melalui dukungan berkelanjutan Danantara sebagai pemegang saham. (pa/jh. Foto: Dok. Garuda Indonesia)

Bukit Asam Catatkan Laba Bersih Rp4,41 Triliun, Melonjak Tajam

BusinessUpdate – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp4,41 triliun hingga kuartal III/2026, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian PTBA untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp4,41 triliun, naik 216,4% dibandingkan Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, pendapatan usaha PTBA naik 12,4% secara tahunan (yoy) menjadi Rp35,20 triliun hingga September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan sebesar Rp31,33 triliun.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan tersebut ditopang oleh pemulihan produksi pada kuartal III/2026, optimalisasi bauran penjualan, serta pengelolaan biaya dan operasional.

“Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III/2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin,” ujar Bambang dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).

PTBA PTBA mencatatkan kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 18% secara tahunan hingga September 2026. Kenaikan harga jual tersebut sejalan dengan penguatan harga batu bara global, yang tercermin dari kenaikan indeks Newcastle sebesar 25% dan indeks ICI-3 sebesar 26% secara tahunan.

Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan batu bara PTBA sebesar 4% secara tahunan. Hingga September 2026, volume penjualan batu bara PTBA mencapai 32,23 juta ton, turun dari 33,70 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total penjualan itu, pasar domestik menyumbang 16,62 juta ton atau sekitar 52%. Sementara itu, volume ekspor mencapai 15,61 juta ton atau sekitar 48% dari total penjualan. Secara tahunan, penjualan domestik turun dari 18,82 juta ton menjadi 16,62 juta ton.

Sebaliknya, penjualan ekspor meningkat dari 14,88 juta ton menjadi 15,61 juta ton. Adapun lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.

Dari sisi profitabilitas, laba kotor PTBA meningkat menjadi Rp7,27 triliun hingga September 2026, dibandingkan Rp3,57 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba usaha juga meningkat menjadi Rp5,11 triliun dari sebelumnya Rp1,60 triliun.

Sementara itu, EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi tercatat sebesar Rp7,19 triliun, naik sekitar 102% dibandingkan Rp3,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan mencatatkan margin laba bersih sebesar 13% dan margin EBITDA sebesar 20% hingga kuartal III/2026. (ip/jh. Foto: Dok. PTBA)

Pupuk Indonesia Jamin Ketersediaan Pupuk di Tengah Transisi Energi

BusinessUpdate – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjamin ketersediaan dan keterjangkauan pupuk di tengah upaya transisi energi yang dilakukan. Sebab, pupuk merupakan faktor signifikan dalam pemenuhan pangan nasional, utamanya dalam mencapai swasembada pangan yang ditargetkan oleh pemerintah.

“Transisi energi yang kami lakukan itu bertahap dan terukur,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) Yehezkiel Adiperwira, Kamis (29/10/2026). Pihaknya memastikan, operasional dari seluruh pabrik, baik itu pabrik pupuk urea, pupuk NPK, dan pupuk lainnya, tetap terjaga keandalannya.

Di tahun 2050 diperkirakan total emisi dalam kondisi normal tanpa adanya intervensi, bisa mencapai 25 juta ton CO2eq. Namun, peta jalan PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan di tahun 2050 penurunan emisi menyentuh angka 96% atau hanya sekitar 1,7 juta ton CO2eq.

Guna mencapai target tersebut, PT Pupuk Indonesia (Persero) menjalan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. “Target penurunan konsumsi energi jangka pendek itu memang terkait dengan efisiensi energi melalui revitalisasi pabrik, kemudian menurunkan konsumsi gas per ton produk,” jelasnya.

Adapun strategi jangka menengah dan jangka panjang yang dilakukan ialah pengembangan blue ammonia dan green ammonia yang berbasis energi terbarukan, pengaplikasian carbon capture utilization and storage (CCUS), serta pendekatan solusi berbasis alam atau nature-based solutions (NBS).

“Kami juga menggandeng kemitraan strategis dengan beberapa perusahaan yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk pengembangan teknologi rendah karbon itu,” lanjut Yehezkiel.

Di tahun 2025, penurunan emisi gas rumah kaca cakupan 1 dan cakupan 2 yang dibukukan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) sebesar 17,47% setara dengan 2,25 juta ton CO2eq jika dibandingkan skenario kondisi normal. Artinya, dalam kondisi normal tanpa adanya intervensi emisi yang dihasilkan di tahun tersebut mencapai 12,90 juta ton CO2eq. Angka tersebut berhasil ditekan, sehingga total realisasi emisi aktual cakupan 1 dan cakupan 2 di tahun 2025 sebesar 10,64 juta ton CO2eq. (rn/jh. Foto: Dok. Pupuk Indonesia)

Krakatau Steel Kembangkan Proyek Hilirisasi Nikel dengan Investasi Rp6,36 Triliun

BusinessUpdate – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) berencana mengembangkan proyek hilirisasi nikel menjadi stainless steel slab dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar US$350 juta atau kurang lebih Rp6,36 triliun.

Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel Sidik Darusulistyo mengatakan, proyek tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan mendorong penciptaan nilai tambah ekonomi dan memperkuat daya saing industri nasional.

“Pengembangan fasilitas ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah produk olahan nikel melalui pengolahan lebih lanjut menjadi stainless steel,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).

Komitmen tersebut disampaikan Sidik dalam sesi Investor Showcase Session pada ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung pada 26-28 Oktober 2026 di Jakarta. Pengembangan fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$2 miliar.

Sementara itu, Corporate Secretary Krakatau Steel Rariya Budi Harta mengatakan, hilirisasi teknologi membutuhkan dukungan ekosistem industri agar inovasi dapat diterapkan dalam skala komersial dan menghasilkan nilai tambah.

“Melalui pengembangan advanced materials dan hilirisasi teknologi, kami berkomitmen mendukung penguatan rantai pasok, membuka peluang investasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional,” ujarnya.

Pengembangan proyek hilirisasi ini melanjutkan komitmen Krakatau Steel dalam membangun ekosistem material maju (advanced materials) nasional. Pada Juli 2026, Krakatau Steel menandatangani nota kesepahaman Collaboration on Advanced Materials Development bersama MIND ID, Defend ID, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat rantai nilai industri dari sektor hulu hingga manufaktur bernilai tambah tinggi.

Pada bulan yang sama, Krakatau Steel juga menandatangani nota kesepahaman dengan Steel Authority of India Limited (SAIL) mengenai rencana pengembangan stainless steel dalam rangkaian kunjungan Perdana Menteri India ke Indonesia. (ip/jh. Foto: Dok. KRAS)

PGN Raih Empat Kontrak Baru Jamin Pasokan Jangka Panjang

BusinessUpdate – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) memperoleh empat kontrak baru untuk mengamankan pasokan gas perseroan selama beberapa tahun ke depan.

Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman, mengatakan perolehan sejumlah kontrak baru tersebut berpotensi menambah portofolio pasokan gas jangka panjang perseroan.

Perolehan kontrak yang diteken PGAS dengan pihak penjual terkait pada 28 Oktober 2026 tersebut juga mendukung pemenuhan kebutuhan gas bumi untuk kegiatan niaga gas yang bersumber dari LNG.

Salah satu kontrak yang diperoleh PGAS adalah dengan PT Pertamina (Persero), Searah North Ganal Limited, Searah North Ganal B.V., Eni North Ganal B.V., Searah Rapak Deepwater Ltd., Searah Rapak Limited, Eni Rapak B.V., Searah Ganal Deepwater Ltd., Searah Ganal Limited, Eni Ganal B.V., Tiptop Ganal Limited, dan Tiptop Rapak Limited.

Dalam kontrak dengan estimasi nilai transaksi mencapai US$1,54 miliar itu, PGAS memperoleh perjanjian penjualan LNG North Hub kepada perseroan untuk periode pengiriman 2029—2037. Perjanjian ini memiliki opsi perpanjangan hingga 31 Desember 2038.

Selain itu, perseroan juga memperoleh kontrak penjualan LNG South Hub dengan estimasi nilai transaksi mencapai US$996,46 juta. Periode pengiriman dari South Hub kepada PGAS ditargetkan pada periode 1 Januari 2027—31 Desember 2032.

“Pada saat pelaporan, Obyek Transaksi antara Perseroan dengan Para Penjual LNG South Hub berpotensi menambah portofolio pasokan gas jangka panjang Perseroan dan mendukung pemenuhan kebutuhan gas bumi untuk kegiatan niaga gas yang bersumber dari LNG,” kata Fajriyah, Kamis (29/10/2026).

PGAS juga meneken kontrak dengan Medco E&P Sakakemang B.V. sebagai penjual atas pasokan gas dari Wilayah Kerja Sakakemang untuk waktu penyaluran 1 September 2027—31 Desember 2037. Estimasi nilai transaksi atas kontrak ini mencapai US$725,55 juta.

Terakhir, PGAS turut memperoleh kontrak dengan INPEX Masela Ltd., PT Pertamina Hulu Energi Masela, dan Searah Masela Sdn. Bhd. sebagai penjual atas LNG dari Lapangan Gas Abadi Masela, dengan nilai transaksi mencapai US$7,34 miliar.

“Perseroan dan para penjual telah menyepakati objek transaksi untuk periode pengiriman yang diperkirakan dimulai pada tahun 2033 dengan jangka waktu 15 tahun,” tutup Fajriyah. (pa/jh. Foto: Dok. PGN)

KAI Beri Dikson 50 Persen untuk Pembelian Kursi Tambahan pada Nataru

BusinessUpdate – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan program Rame Deals dengan menawarkan diskon 50% untuk pembelian kursi tambahan (extra seat) pada periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).

Direktur Komersial KAI, Dendy Kurniawan mengatakan, program tersebut diharapkan memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang selama perjalanan menggunakan kereta api.

Menurutnya, program tersebut merupakan salah satu inovasi perusahaan untuk meningkatkan minat masyarakat bepergian menggunakan kereta api sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman. “Ini memastikan sebelahnya memang tidak ada orang lain, tentunya memberikan kenyamanan lebih dengan harga yang lebih murah,” ujar Dendy dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, melalui Rame Deals, penumpang dapat membeli kursi di sebelahnya dengan harga diskon 50%. Fasilitas ini ditujukan bagi masyarakat yang menginginkan ruang duduk lebih leluasa, terutama saat menempuh perjalanan jarak jauh yang membutuhkan waktu tiga hingga lima jam atau lebih.

Meski demikian, KAI masih memfinalisasi platform yang akan digunakan untuk layanan tersebut, agar dapat diimplementasikan pada periode angkutan Nataru mendatang. “Untuk sementara, masih kita finalkan platform-nya. Tapi mulai kita mau mulai perkenalkan, mudah-mudahan nanti pada saat Nataru, itu sudah mulai bisa kita implementasikan,” tambahnya.

Ia menekankan, program Rame Deals tidak akan diberlakukan di seluruh perjalanan kereta api. KAI akan memilih relasi tertentu yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dan kondisi okupansi penumpang. Kereta dengan tingkat keterisian yang sudah tinggi tidak menjadi prioritas penerapan program tersebut.

Dari sisi ketentuan, pembelian extra seat melalui program ini direncanakan mengikuti mekanisme pembelian tiket secara daring. Namun, calon penumpang harus mendaftarkan nama-nama pengguna kursi tambahan sejak awal untuk menghindari penyalahgunaan fasilitas, termasuk praktik pembelian tiket untuk dijual kembali.

Program Rame Deals menjadi bagian dari upaya KAI mengembangkan layanan yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan pelanggan. KAI juga ingin menjadikan perjalanan dengan kereta api bukan hanya sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat, termasuk untuk berlibur dan bepergian pada akhir pekan. (ip/jh. Foto: Dok. KAI)

Antam Kembangkan Pabrik Logam Mulia di Gresik, Tingkatkan Kapasitas Manufaktur

BusinessUpdate – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur untuk meningkatkan kapasitas manufaktur, memperluas penetrasi pasar domestik, dan mengoptimalkan nilai tambah bisnis emas.

Dalam laporan kuartalan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 pada Rabu (28/10/2026), Antam menyebut pengembangan fasilitas tersebut dilakukan di tengah permintaan emas yang terus meningkat.

Pengembangan fasilitas manufaktur itu juga menjadi bagian dari strategi hilirisasi mineral yang dijalankan perusahaan. Melalui proyek-proyek hilirisasi, perseroan berupaya memperkuat rantai nilai industri mineral nasional sekaligus memperluas perannya dalam rantai pasok global.

Pengembangan fasilitas manufaktur logam mulia berlangsung ketika Antam mencatatkan penjualan emas sebesar 25.217 kilogram atau sekitar 25,2 ton selama Januari-September 2026. Berdasarkan laporan perusahaan, volume penjualan emas tersebut setara dengan 810.745 troy ounce.

Sementara itu, produksi emas dari tambang Antam mencapai 634 kilogram atau 20.384 troy ounce. Produksi tersebut meningkat 7% dibandingkan periode Januari-September 2025 yang sebesar 590 kilogram.

Pada kuartal III/2026, produksi emas Antam mencapai 202 kilogram, meningkat 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 151 kilogram. Adapun penjualan emas pada kuartal III/2026 mencapai 7.137 kilogram atau sekitar 7,1 ton.

Angka produksi emas yang berasal dari tambang perusahaan tersebut perlu dibedakan dari volume penjualan emas. Keduanya merupakan indikator berbeda dalam kegiatan bisnis Antam.

Di sisi pemasaran, Antam menyatakan terus mengembangkan portofolio produk, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas kanal distribusi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan pengalaman pelanggan, serta memperkuat daya saing bisnis emas perusahaan.

Antam menempatkan pengembangan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik sebagai salah satu bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Proyek tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas manufaktur, memperluas penetrasi pasar domestik, dan mengoptimalkan nilai tambah dari bisnis logam mulia.

Pengembangan itu sejalan dengan upaya perusahaan memperkuat hilirisasi mineral secara terintegrasi. Perseroan menyebut berbagai proyek hilirisasi strategis yang dikembangkan perusahaan merupakan bagian dari upaya memperkuat industri mineral nasional dan memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global.

Pada bisnis emas, peningkatan kapasitas manufaktur menjadi salah satu aspek yang dikembangkan perusahaan untuk mendukung perluasan pasar logam mulia.

Selain mengembangkan fasilitas manufaktur, Antam memperkuat pemasaran produk logam mulia melalui kolaborasi dengan mitra strategis di dalam negeri. Salah satu kerja sama yang tercantum dalam laporan adalah kemitraan dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Pada 8 Juli 2026, perseroan dan Bank Muamalat menjalin kerja sama strategis dalam distribusi logam mulia melalui skema wholesaler.

Melalui kerja sama tersebut, kedua perusahaan akan bersinergi dalam perdagangan emas fisik logam mulia Antam melalui jaringan kantor cabang maupun kanal digital Bank Muamalat. Keduanya juga akan berkolaborasi dalam program pemasaran, edukasi, dan literasi investasi emas kepada masyarakat.

Perseroan menyebut inisiatif tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan bahan baku emas domestik sekaligus mendukung pengembangan ekosistem industri emas nasional. Kerja sama distribusi itu menjadi salah satu bagian dari upaya perusahaan memperluas akses masyarakat terhadap produk logam mulia.

Antam juga mengembangkan portofolio produk logam mulia untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Perusahaan mencatat peluncuran produk tematik edisi Kemerdekaan 2026 pada 10 Agustus 2026. Produk tersebut terdiri atas emas batangan Karapan Sapi seberat 17 gram dan koin perak Gunung Bromo seberat satu troy ounce atau 31,103 gram. Keduanya mengusung desain relief tiga dimensi yang menggambarkan kekayaan budaya dan alam Indonesia.

Perusahaan menyebut pengembangan produk tematik tersebut sebagai bagian dari perluasan portofolio emas batangan dan koin perak dengan desain yang mengangkat cerita serta filosofi Indonesia. Di sisi pemasaran, perseroan terus memperkuat strategi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mendukung pertumbuhan usaha. (pa/jh. Foto: Dok. Antam)

Laba Bersih Astra International pada Kuartal III/2026 Capai Rp21,6 Triliun

BusinessUpdate – PT Astra InternationalTbk. (ASII) berhasil memperoleh laba bersih sebesar Rp21,6 triliun pada kuartal III/2026. Capaian ini ditopang oleh kinerja solid segmen otomotif serta penguatan lini jasa keuangan perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan akhir September 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk itu turun 11,73% secara tahunan (yoy) dari periode sama tahun lalu sebesar Rp24,47 triliun.

Sementara itu, ASII meraup pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp243,86 triliun per 30 September 2026, meningkat tipis tipis 0,11% secara tahunan dari posisi kuartal III/2025 yang tercatat sebesar Rp243,60 triliun.

Beban pokok pendapatan perseroan juga naik 0,26% yoy menjadi Rp191,86 triliun dari Rp191,36 triliun sehingga laba kotor Astra tercatat sebesar Rp52 triliun, terkoreksi tipis 0,46% yoy.

Secara operasional, kontributor terbesar pendapatan Astra masih berasal dari segmen otomotif dengan realisasi senilai Rp101,67 triliun per September 2026. Jumlah tersebut meningkat sebesar 7,70% yoy dari Rp94,40 triliun.

Sementara itu, segmen jasa keuangan juga mencatatkan kenaikan pendapatan 7,38% yoy menjadi Rp26,44 triliun dari Rp24,62 triliun. Adapun, segmen wider businesses meraih pendapatan Rp29,47 triliun, naik 6,87% secara tahunan.

Di sisi lain, pendapatan segmen solusi pertambangan dan alat berat tercatat sebesar Rp90,33 triliun, turun 10,08% yoy dari posisi Rp100,46 triliun pada kuartal III/2025. Adapun jumlah eliminasi antarsegmen tercatat Rp4,07 triliun.

Dari sisi neraca keuangan, ASII membukukan total aset sebesar Rp525,71 triliun per 30 September 2026 atau tumbuh 3,62% dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2025 (year to date/ytd) yang mencapai Rp507,36 triliun. Perinciannya, liabilitas perseroan naik 5,21% ytd menjadi Rp227,82 triliun, sementara total ekuitas juga meningkat 2,44% ytd ke posisi Rp297,89 triliun. (rn/jh. Foto: Dok. ASII)