BusinessUpdate – BYD Indonesia baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk membangun fasilitas manufaktur berkapasitas 150.000 unit per tahun di Subang Smartpolitan, Jawa Barat.
Subang Smartpolitan merupakan kawasan industri yang dikelola oleh PT Suryacipta Swadaya (SCS), entitas dari PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA).
President Director PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan memberikan kesempatan bagi industri lokal untuk menjadi pemasok mobil listrik secara global.
“Kapasitas dari fasilitas manufaktur kami mengincar 150.000 unit per tahun. Total investasi di indonesia kami mengincar lebih dari US$1 miliar,” kata Eagle di sela-sela pameran PEVS 2024, Selasa (30/4/2024).
Pabrik yang akan memproduksi tiga model mobil listrik, yakni Dolphin, Atto3, dan Seal tersebut akan mulai beroperasi pada 2026. Meski demikian, ia belum bisa memastikan tanggal pasti untuk peletakan batu pertama.
Kabar mengenai groundbreaking diutarakan oleh Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia yang menyebut acara tersebut menjadi salah satu agenda yang sudah direncanakan oleh pemerintah untuk April 2024.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan menyebut BYD akan melakukan groundbreaking pabrik mobil listrik pada Juli 2024.
Luhut menegaskan pemerintah akan membangun ekosistem untuk seluruh kendaraan listrik. Hal ini bertujuan agar masyarakat yang sudah menggunakan mobil maupun motor listrik dengan perjalanan sampai Surabaya dapat mengakses pengisian daya selama perjalanan.
“Kami akan pastikan semua Kementerian/Lembaga harus memasang charger listrik dari sini sampai ke timur sana,” tuturnya melalui akun Instagram pribadi. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah ekosistem yang didorong oleh pemerintah supaya populasi kendaraan listrik menjadi sebanyak mungkin. Apalagi, pemerintah sudah memberikan berbagai insentif.
Di satu sisi, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga sebelumnya telah membocorkan nilai investasi BYD ditaksir mencapai US$1,3 miliar atau setara Rp20,33 triliun. (ip/jh)


