BusinessUpdate – Sejak 2009 PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) memiliki program kemitraan dengan petani tembakau di Wonogiri, Jawa Tengah. Tercatat, ada sekitar 2.000 petani tembakau dari Kecamatan Pracimantoro, Eromoko, dan Wuryantoro. yang bergabung ke dalam program tersebut.
“Program yang dijalankan melalui perusahaan pemasok tembakau ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tembakau dan kesejahteraan petani,” jelas perseroan melalui keterangan tertulis, Jumat (12/7/2024).
Melalui program kemitraan, para petani binaan mendapatkan pendampingan, bimbingan teknis, akses yang mudah terhadap permodalan serta prasarana produksi pertanian, hingga jaminan pembelian bagi petani sesuai dengan kesepakatan.
Selain pendampingan proses budidaya, para petani binaan juga menerima berbagai pelatihan guna mengurangi dampak terhadap lingkungan dan menciptakan kondisi bekerja yang aman dan berkeadilan.
Beragam program pemberdayaan perempuan dan pendampingan usaha juga diimplementasikan untuk para istri petani tembakau. Rangkaian kegiatan ini bertujuan agar dampak positif program kemitraan dapat juga dirasakan bagi komunitas di sekitar petani.
Salah satu petani tembakau binaan HMSP adalah Paino (55), dari Dukuh Ngepoh, Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ia mengaku kesejahteraannya meningkat sejak mengikuti program kemitraan dengan Sampoerna melalui perusahaan pemasok.
Paino menceritakan, ia telah menjadi petani mitra dalam program kemitraan Sampoerna yang dijalankan melalui pemasok sejak 2016. Awalnya, pemasok tersebut mengadakan sosialisasi program kemitraan petani tembakau di desanya. Petani yang juga menanam padi ini akhirnya memutuskan ikut bergabung menjadi mitra, meskipun tidak pernah bersentuhan dengan pertanian tembakau sebelumnya.
“(Sebelumnya) saya belum pernah tanam tembakau. Tapi karena ajakan teman-teman petani lain yang sudah lebih dulu ikut dan keluarga yang sangat mendukung sekali, saya akhirnya juga ikut program kemitraan,” kata Paino.
Paino mendapatkan berbagai pelatihan terkait bertani tembakau. Ia menjelaskan, dirinya memperoleh pelatihan tentang cara mengolah tanah, pembibitan, proses tanam, hingga panen dan pascapanen.
Pertama kali ikut program kemitraan, ia memulai dengan jumlah bibit tanaman yang lebih sedikit daripada petani tembakau lain pada umumnya. Itu pun dengan diiringi kekhawatiran tanaman tembakaunya tidak berhasil tumbuh dengan baik.
Setelah mendapat berbagai pelatihan sebagai bagian dari program kemitraan, Paino akhirnya mengetahui cara tanam yang optimal, sehingga selanjutnya ia menanam tembakau di seluruh lahan miliknya hingga kini.
Paino mengatakan, sebelum ikut program ini, setiap tahunnya ia hanya melakukan satu kali panen padi, setelah itu lahannya ditanami jagung. Bahkan, jika tidak turun hujan atau musim kemarau, lahan sawahnya dia biarkan kosong.
Dengan demikian, jika sedang musim kering, Paino tidak memperoleh pendapatan dari lahannya. Sejak ada program kemitraan petani tembakau, lahan sawah miliknya menjadi produktif saat musim kemarau. Ia tetap dapat mengolah lahan sawahnya untuk ditanami tembakau.
Banyak manfaat yang diperoleh sejak ikut menjadi mitra petani tembakau. Penghasilannya jauh meningkat dibandingkan sebelum ikut program kemitraan. Berkat ini, dirinya bisa merenovasi rumah dan membiayai anaknya hingga selesai kuliah.
Selain itu, karena pertanian tembakaunya terus berkembang, Paino mempekerjakan dua orang tetangganya untuk membantu menggarap lahannya selama musim tanam tembakau. Dengan demikian, selain lahan menjadi produktif, program kemitraan pertanian tembakau juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. (pa/jh)


