BusinessUpdate – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) bakal menambah kapasitas listrik dari proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 pada paruh pertama 2025.
Corporate Secretary PGEO Kitty Andhora mengatakan proyek itu bakal beroperasi komersial atau commercial operation date (COD) pada kuartal II/2025. “Lumut Balai Unit 2 yang dijadwalkan untuk beroperasi secara komersial atau COD pada triwulan II/2025 dan menambah kapasitas perusahaan sebesar 55 MW,” kata Kitty dikutip dari Bisnis, Minggu (19/1/2025).
PGEO telah menyepakati tarif kontrak jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero) sejak 2011 dengan harga US$7,53 sen per kilowatt (kWh) untuk proyek tersebut. Proyek Lumut Balai Unit 2 menjadi bagian dari rencana kerja PGEO untuk meningkatkan utilitas setrum dari potensi tambahan kapasitas sebesar 340 megawatt (MW) tahun ini.
Beberapa potensi tambahan daya itu berasal dari lapangan panas bumi milik PGEO, di antaranya Lumut Balai (40 MW), Lumut Balai Unit 2 (55 MW) Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), Hululais Binary Unit (60 MW), Ulubelu (40 MW), Lahendong (35 MW). Saat ini, PGEO memiliki total kapasitas sebesar 1.887 megawatt dari 13 wilayah kerja panas bumi dengan rincian 672 megawatt dari operasional sendiri dan 1.205 megawaat dari kontrak dengan klien.
Adapun, PLTP Lumut Balai Unit 1 dan 2 menelan investasi sekitar US$700 juta atau setara dengan Rp10,5 triliun. Proyek PLTP Lumut Balai Unit-2 mendapat pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) senilai 26.966 yen atau US$188.618 (sekitar Rp2,83 triliun).
Di sisi lain, Kitty menambahkan, perseroan telah menyerap dana hasil penawaran umum atau IPO sebesar Rp4,3 triliun sampai akhir 2024. Sebagian besar dana itu dipakai untuk pengembangan kapasitas terpasang PGEO secara konvensional dan co-generation.
“Penggunaan dana IPO secara bertahap mencerminkan pendekatan strategis PGEO dalam memastikan proyek-proyek yang dibiayai memberikan nilai komersial yang optimal,” tuturnya.
Sebagai informasi hasil bersih yang didapat PGEO dari penawaran umum mencapai Rp8,77 triliun pada 16 Februari 2023. Dengan demikian, sisa dana IPO yang belum terserap sekitar Rp4,47 triliun. Manajemen PGEO menempatkan sisa dana itu dalam bentuk deposito dolar Amerika Serikat (AS) sebesar US$200 juta dengan tingkat suku bunga 6,05% di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Sisanya, sebesar US$76.769.607 ditempatkan dalam bentuk deposito dengan tingkat suku bunga 5,71% di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). (rn/jh. Foto: Dok. PGE)


