BusinessUpdate – Pasar properti kondominium dan apartemen hingga semester I/2025 masih lesu. Padahal, pada periode tersebut pemerintah menggulirkan paket kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100%. Kondisi ini menyebabkan ribuan unit apartemen di Jakarta belum terserap atau tak laku terjual.
Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Ekajaya menjelaskan di wilayah Jakarta total suplai apartemen dan kondominium komersial milik anggota REI yang belum terserap pasar menembus lebih dari 5.000 unit yang tersebar di beberapa wilayah. Salah satunya, berada di area Kebon Jeruk, beberapa titik di selatan Jakarta dan timur Jakarta.
Bambang menjelaskan, perlambatan penjualan apartemen itu terjadi hampir di seluruh golongan. Mulai dari apartemen kelas menengah hingga apartemen kelas atas.
Khusus untuk pasar kelas menengah, kendala mahalnya pengenaan Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) sehingg kelas menengah cenderung akan memilih untuk kontrak rumah.
Kemudian, perlambatan penjualan apartemen juga menyasar kelas menengah atas. Di mana, umumnya kelas ini rajin melakukan pembelian unit apartemen sebagai instrumen investasi. Akan tetapi, beberapa waktu belakangan margin investasi apartemen terus menurun. Ditambah hadirnya instrumen investasi lain yang jauh lebih menjajikan menjadi penyebab penjualan apartemen kian merosot. “
Head of Research JLL Indonesia, Yunus Karim mengungkap penjualan hunian vertikal yakni apartemen dan kondominium terus merosot pasca-Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu. Sepanjang semesetr I/2025, penjualan apartemen dan kondominium stagnan. Bahkan, Yunus menjelaskan bahwa penjualan apartemen sepanjang semester I/2025 di Jakarta yang tercatat oleh JLL Indonesia hanya ada di angka 150 unit.
Apabila ditilik ke beberapa waktu belakangan, penjualan apartemen di Jakarta sepanjang semester I/2025 itu jauh menurun dibandingkan dengan rata-rata penjualan unit apartemen dalam kurun waktu 10 tahun belakangan yang ada di angka 3.560 unit.
Menurutnya, penurunan penjualan apartemen di Indonesia khususnya Jakarta telah terjadi sejak 2015. Di mana, posisinya bergerak makin buruk saat Indonesia diterpa Pandemi pada 2020.
Akibat lemahnya daya serap pasar tersebut, Yunus menyebut sepanjang tahun ini dipastikan tidak akan ada peluncuran apartemen baru di Jakarta. Padahal, rata-rata suplai apartemen baru selama sepuluh tahun belakangan umumnya ada di angka 4.100 unit per tahun.
Dari sisi pasar, saat ini pasar kelas menengah bawah masih mendominasi pembelian apartemen di angka 49%. Di mana, segmen ini tengah berhati-hati dalam melakukan ekspansi di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi. Sementara itu, kelas menengah persentasenya mencapai 44%, sedangkan segmen kelas menengah atas berkontribusi sebesar 7%.
Akibat minimnya serapan pasar tersebut, harga penjualan apartemen juga tampak stagnan dalam beberapa waktu belakangan. Di mana, saat ini harga apartemen untuk kelas menengah bawah umumnya dibanderol dengan harga di bawah Rp20 juta per meter. Kemudian, harga apartemen kelas menengah saat ini parkir di Rp30 juta per meter, menengah atas Rp40 juta per meter, apartemen high end di angka Rp42 juta per meter dan apartemen luxury di angka Rp60 juta meter per meter. (rn/jh)


