BusinessUpdate – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart menargetkan untuk membuka 800 gerai baru secara bersih (net) sepanjang 2026. Penambahan gerai difokuskan ke luar Jabodetabek.
“Target kita 800 gerai baru net. Jabodetabek ada penambahan, tapi relatif sedikit. Kita akan terus mengeksplor wilayah tertentu yang masih punya potensi untuk dibuka gerai baru,” kata Direktur Corporate Affairs Alfamart, Solihin di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi dan persaingan ritel yang semakin ketat. Ia mengatakan fokus utama perusahaan pada 2026 tidak hanya menambah jumlah gerai, tetapi juga meningkatkan kinerja toko yang sudah beroperasi.
Menurutnya, pertumbuhan penjualan dari gerai eksisting tetap menjadi perhatian utama karena berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. “Kalau ditanya tahun 2026, kita ingin lebih baik. Caranya dengan meningkatkan penjualan toko yang sudah ada dan membuka toko-toko baru di wilayah yang memang masih punya potensi,” ujar Solihin.
Meski memiliki target agresif di 2026, Solihin menjelaskan, penambahan di wilayah Jabodetabek bukan menjadi fokus. Tapi, penambahan gerai tetap ada dengan porsi yang relatif kecil. Alasan penambahan gerai di kota besar tidak menjadi prioritas, lantaran tingginya biaya sewa properti yang dinilai tidak lagi ekonomis untuk pengembangan bisnis ritel.
Di Jakarta saja jumlah toko yang sudah sangat banyak, faktor biaya sewa juga turut menjadi pertimbangan utama. “Kalau kita fokus lagi ke Jakarta, penambahannya akan kecil. Jakarta sudah cukup banyak dan sewanya mahal banget,” ujar Solihin.
Ia mengatakan, ekspansi akan lebih diarahkan ke daerah-daerah yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan. Ekspansi tetap diperlukan meski Alfamart menghadapi sejumlah tantangan di beberapa daerah, termasuk tekanan biaya dan daya beli.
Perusahaan memastikan seluruh pembukaan gerai dilakukan sesuai ketentuan dan perizinan yang berlaku. “Pada intinya kita akan buka toko kalau lingkungannya setuju kita hadir di sana, termasuk dari sisi perizinan. Kita tidak pernah berpikir membuka toko tanpa izin atau tidak mengikuti aturan daerah,” tutup Solihin. (rn/jh)


