BusinessUpdate – PT Pertamina (Persero) belum berencana menaikkan harga BBM di tengah melambungnya harga minyak global menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas di Iran akhir pekan lalu.
Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur ekspor minyak strategis dunia. Bila ini benar-benar dilakukan maka berpotensi meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait langkah yang akan diambil. Namun, ia memastikan belum ada rencana mengerek harga BBM, khususnya non-subsidi.
“Untuk tarif BBM ke depan ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut,” ungkap Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Ia memastikan hingga saat ini stok BBM terkendali, khususnya dalam menyongsong periode libur dan arus mudik Idul Fitri 2026.
“Stok untuk Ramadan dan Idul Fitri aman. Insya Allah bisa berjalan dengan baik. Itu menjadi kewajiban utama kami terlebih dahulu,” kata Baron.
Baron mengakui bahwa harga minyak global saat ini melonjak imbas perang. Bahkan, harganya telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026 yang sebesar US$70 per barel.
Baron menuturkan, pihaknya secara intensif berkoordinasi dengan pemerintah untuk mencari alternatif impor minyak mentah dari Timur Tengah. Ia menyebut, saat ini impor minyak mentah dari Timur Tengah hanya mencapai 19% dari total impor. Menurutnya, koordinasi itu juga dilakukan demi memenuhi kebutuhan energi nasional.
Ia menambahkan bahwa impor akan dilakukan sesuai dengan tata kelola yang baik. “Kebutuhan nasional merupakan prioritas,” tutup Baron. (ip/jh. Foto: Dok. Pertamina)


