BusinessUpdate – Di pentas Asia tim sepak bola Jepang memang salah satu jawaranya, namun di pentas dunia masih banyak yang menyangsikan kemampuan tim Samurai Biru. Bahkan ketika faktualnya Jepang berhasil menaklukkan dua raksasa kiblat sepak bola Jerman dan Spanyol, dan menjadi juara grup “neraka.”
Namun prestasi ekonomi dari Negeri Matahari Terbit tak seciamik torehan tim sepak bolanya. Mengutip Reuters, Jumat (2/12/2022), ekonomi Jepang menempati posisi ketiga ekonomi terbesar dunia, di bawah Amerika Serikat dan China. Namun, perekonomian Jepang pada kuartal III-2022 tampaknya tidak sementereng penampilan timnas mereka di Piala Dunia.
Ekonomi Jepang secara tidak terduga menyusut untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir. Jepang masih tertatih, meskipun pembatasan COVID-19 sudah dicabut baru-baru ini. Negeri Matahari Terbit ini juga tertekan akibat gelombang inflasi global.
Kenaikan suku bunga meluas di berbagai negara usai pecahnya perang Rusia-Ukraina. Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang turun 1,2% selama Juli-September 2022. Mata uang Yen juga turun ke posisi terendah dalam 32 tahun terakhir terhadap dolar AS.
Hal ini menyebabkan biaya hidup di Jepang semakin tinggi, dengan kenaikan harga-harga komoditas, misalnya kenaikan harga bahan bakar hingga makanan. “Kontraksi ini mengejutkan,” kata Takeshi Minami, Kepala Ekonom di Norinchukin Research Institute.
Minami menyebut pencabutan pembatasan COVID-19 sebenarnya memberikan sedikit kelegaan. Namun, masih ada ancaman ketidakpastian akibat munculnya kasus virus baru.
“Sementara peningkatan wisatawan masuk adalah titik terang untuk Oktober-Desember dan seterusnya, kami melihat risiko penurunan dari kenaikan harga barang dan ketakutan akan wabah lain,” katanya.
Menyoroti kekhawatiran tentang kebangkitan pandemi, Jepang menghadapi infeksi COVID-19 harian baru yang mencapai 100.000 pada Selasa untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Kasus baru telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir yang disebut sebagai gelombang kedelapan selama pandemi.
Jepang juga mencatatkan kerugian perdagangan selama enam kuartal berturut-turut pada periode Juli-September, mencapai rekor kerugian senilai 19,7 triliun yen.
Risiko terhadap prospek Jepang meningkat karena ekonomi global terhuyung-huyung di ambang resesi. Menteri Ekonomi Shigeyuki Goto mengatakan resesi global dapat memukul rumah tangga dan bisnis.
Pada kuartal III, konsumsi swasta yang membentuk lebih dari setengah ekonomi Jepang tumbuh 0,3%, sedikit di atas perkiraan konsensus untuk pertumbuhan 0,2% tetapi melambat tajam dari kenaikan 1,2% pada kuartal II.
Data menunjukkan belanja konsumen akan tetap tertekan selama beberapa bulan mendatang, dengan kompensasi riil karyawan turun 1,6% pada kuartal III, membukukan penurunan kuartal II berturut-turut dan meluas dari penurunan 1,2% kuartal sebelumnya.
“Pertumbuhan akan berubah positif di kuartal IV, di tengah rebound dalam pariwisata masuk dan defisit perdagangan yang lebih kecil, tetapi gelombang virus kedelapan dan kenaikan inflasi akan membatasi pemulihan,” kata Darren Tay, Ekonom Jepang di Capital Economics.
Tay mencatat bahwa investasi non-perumahan meningkat 1,5% secara kuartalan di bawah konsensus kenaikan 2,1% dan perkiraan Capital Economics sendiri untuk tingkat pertumbuhan 3,0% yang kuat.
Ekspor tumbuh 1,9% tetapi diliputi oleh kenaikan impor yang besar dan kuat, yang berarti permintaan eksternal mengurangi 0,7 poin persentase dari PDB. Pemerintahan Perdana Menteri Fumio Kishida meningkatkan dukungan bagi rumah tangga untuk mencoba meredakan dampak inflasi dengan mengeluarkan bantuan 29 triliun yen (US$ 206,45 miliar) dalam anggaran. Bank of Japan juga mempertahankan program stimulus moneter yang sangat longgar untuk membantu menghidupkan kembali perekonomian. (spm)


