BusinessUpdate – Pelaku industri otomotif berharap pemerintah dapat memberikan insentif fiskal yang merata bagi seluruh segmen kendaraan listrik, termasuk mobil hybrid.
Direktur Corporate & External Affairs PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai pemberian insentif semestinya juga diberikan kepada kendaraan listrik hybrid, tak hanya untuk kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV).
“Mobil listrik bukan BEV saja, ada hybrid juga. Saat ini BEV masih mahal, kalau dari kami berharap yang hybrid juga bisa dapat insentif,” ujar Bob di sela-sela Seminar Nasional Toyota di ITB, Jumat (2/12/2022).
Menurutnya, insentif yang merata pada semua jenis mobil listrik akan mendorong lebih jauh lagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. “Karena prinsipnya seluruh lapisan masyarakat ingin partisipasi mengurangi emisi dan menghemat bahan bakar,” lanjutnya.
Ia menambahkan, mobil hybrid juga dapat menghemat BBM dan menekan emisi sebanyak 50%. “Walaupun Hybrid tidak sampai nol, tapi 50% kan bisa. Dengan Zenix [Innova] ini kami ingin sampaikan ke publik bahwa dengan teknologi hybrid pun kita bisa hemat bahan bakar 50%. Kalau seluruh mobil bisa hemat 50% kan, luar biasa kontribusinya bagi penghematan BBM,” imbuhnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menko Perekonomian Bidang Pengembangan Industri dan Kawasan I Gusti Putu Surya Wirawan mengatakan, hingga saat ini kebijakan nonfiskal pun masih belum seimbang untuk segala jenis mobil listrik.
“Ada juga insenstif nonfiskal, seperti kendaraan berbasis listrik yang bisa masuk ganjil genap. Sayangnya, ini yang berbasis listrik masih diskriminasi, ya hanya yang full listrik yang boleh ganjil genap harusnya kendaraan-kendaran half listrik, seperti HEV dan PHEV harus diberikan insentif nonfiskal juga,” ungkap Putu.
Oleh sebab itu, kajian-kajian untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik tidak hanya mengkaji dari sisi industri saja, melainkan dari kebijakannya juga. (jh)


