BusinessUpdate – Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan limbah perkebunan kelapa sawit bisa menjadi sumber pakan sapi melalui Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska). Melalui skema tersebut, biaya pakan bisa turun hingga 40%.
Deputi Bidang Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti mengatakan, Siska memanfaatkan sumber daya lokal untuk meningkatkan produksi daging dan susu nasional. “SISKA menjadi solusi berbasis sumber daya lokal yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kemandirian protein hewani nasional,” kata Widiastuti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).
Konsep Siska memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit sebagai pakan sapi. Limbah tersebut meliputi bungkil inti, pelepah, dan daun sawit. Area perkebunan kelapa sawit juga ditanami rumput untuk pakan ternak. Pemerintah menilai skema itu membuat usaha peternakan sapi lebih efisien. Biaya pakan menjadi salah satu komponen terbesar dalam usaha peternakan.
Widiastuti mengatakan, Siska juga diarahkan untuk meningkatkan produksi protein hewani dalam skala besar. Program tersebut disiapkan untuk menekan ketergantungan impor daging dan susu sapi. Saat ini, produksi susu dalam negeri baru memenuhi 20% kebutuhan nasional.
Pemerintah mencatat luas kebun kelapa sawit di Indonesia mencapai 16,38 juta hektar. Menurut Widiastuti, populasi sapi berpotensi bertambah hingga 2,73 juta ekor jika separuh lahan tersebut digunakan untuk program Siska. Tambahan populasi itu mencakup sapi untuk penggemukan dan pembibitan.
Pemerintah berharap peningkatan populasi sapi bisa menekan impor daging. Impor daging pada 2026 diperkirakan mencapai 297.000 ton. Widiastuti menilai integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit juga bisa meningkatkan pendapatan petani. Petani bisa melakukan diversifikasi usaha. Kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Meski demikian, penerapan Siska masih menghadapi sejumlah tantangan, mencakup kebutuhan investasi, regulasi, serta sinergi antara pemerintah, perusahaan perkebunan, koperasi, dan masyarakat. “Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menjadikan integrasi sapi-sawit sebagai penggerak kesejahteraan petani dan peternak,” tutup Widiastuti. (ip/jh)


