BusinessUpdate – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, Jeffrey menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI menggantikan Iman Rachman.
Dalam menjalankan tugasnya, Jeffrey akan didampingi Saidu Solihin yang ditunjuk sebagai Direktur Penilaian Perusahaan dan Irvan Susandy sebagai Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa.
Selain itu, OJK juga menetapkan Yulianto Aji Sadono sebagai Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan serta Abdul Munim sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko.
Sedangkan, posisi Direktur Pengembangan akan dijabat oleh Iding Pardi yang saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Adapun jabatan Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum akan diemban oleh Umi Kulsum. Ketujuh nama tersebut akan diangkat secara resmi dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan BEI 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juni 2026.
Sebelum menjadi Dirut, Jeffrey menjabat sebagai Pjs Direktur Utama BEI. Sebelumnya ia mengisi posisi sebagai Direktur Pengembangan BEI sejak Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2022.
Dalam posisi tersebut, Jeffrey berperan strategis dalam mendorong inovasi dan pengembangan pasar modal Indonesia.
Adapun, karier Jeffrey di industri keuangan dimulai pada 1994 di PT Zone Pratama. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan divisi Corporate Finance PT Transpacific Securindo dari 1996-1999.
Setelah itu, Jeffrey menjabat sebagai Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas selama lebih dari dua dekade, yakni pada 1999 hingga 2022.
Selain berkiprah di perusahaan sekuritas, Jeffrey juga aktif di berbagai organisasi dan lembaga pasar modal, antara lain Komite Perdagangan dan Penyelesaian Transaksi Efek BEI serta Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).
Jeffrey Hendrik meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada 1995. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi dalam perjalanan kariernya di industri pasar modal dan jasa keuangan.
Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan dinamika pasar keuangan global, Jeffrey menegaskan komitmen BEI untuk terus memperkuat tata kelola dan transparansi pasar modal Indonesia.
“Kami menegaskan komitmen membangun pasar modal Indonesia berkelas dunia, tidak hanya dari sisi nilai perdagangan dan kapitalisasi pasar, tetapi juga dalam hal transparansi dan tata kelola,” ujar Jeffrey.
Ia juga mengungkapkan bahwa BEI telah menjalin komunikasi dengan sejumlah penyedia indeks global guna memenuhi berbagai standar internasional yang diharapkan investor.
“Kami sudah berkomunikasi dengan beberapa indeks provider global dan menampung apa yang diharapkan. Semua itu akan kami deliver secepat mungkin untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada investor global maupun domestik,” tutup Jeffrey. (pa/jh. Foto: Dok. Antara)


