BusinessUpdate – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) melaporkan tingkat hunian pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta mencapai sekitar 86% pada kuartal II/2026, didorong oleh ekspansi penyewa serta kegiatan optimasi mal yang dilakukan pengelola.
Permintaan ruang ritel saat ini cukup banyak datang dari sektor makanan dan minuman (F&B), wellness, hingga ritel berbasis pengalaman (experiential retail).
“Berdasarkan diskusi kami dengan landlords dan building operations, melalui beberapa asosiasi seperti APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), kami melihat semakin banyak inquiry (permintaan penyewa) untuk masuk, terutama untuk F&B, wellness, dan experiential retail stores, termasuk pet shop juga cukup tinggi inquiry-nya,” kata Head of Project and Asset Management JLL Indonesia Naomi Patadungan dalam taklimat media Jakarta Property Market Overview 2Q di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Tren tersebut turut didorong perubahan preferensi konsumen muda, khususnya generasi Z, yang semakin mencari merek baru dan pengalaman berbeda ketika mengunjungi pusat perbelanjaan.
Ia menjelaskan F&B saat ini hadir dengan beragam konsep dan produk yang dirancang untuk menarik konsumen muda. Kondisi tersebut terlihat dari antrean panjang pada sejumlah gerai baru, terutama produk minuman.
Naomi mengatakan fenomena tersebut turut meningkatkan lalu lintas pengunjung sekaligus memperpanjang waktu yang dihabiskan konsumen di dalam mal. Meningkatnya kunjungan tersebut mendorong pemilik pusat perbelanjaan (landlords) untuk mempertahankan daya tarik mal melalui renovasi dan ekspansi area ritel.
Pengelola juga mulai mengombinasikan konsep ritel konvensional dengan outdoor retail, sekaligus melakukan kurasi terhadap tenan dan produk F&B yang masuk. Naomi menilai strategi tersebut menjadi salah satu upaya pemilik mal untuk mempertahankan traffic di tengah perubahan perilaku konsumen.
“Ini juga meningkatkan harapan dari landlords untuk terus mendapatkan traffic yang baik. Lalu mereka melakukan renovasi, ekspansi dari ritel mereka, terutama brand retail, juga untuk mengkombinasikan antara conventional retail dan juga outdoor retail,” katanya.
Studi JLL mencatat tingkat okupansi pusat perbelanjaan premium (prime malls) bahkan mencapai sekitar 96%. Sementara itu, stok pusat perbelanjaan Jakarta pada kuartal II/2026 tetap sekitar 3,2 juta meter persegi karena tidak terdapat pasokan baru yang masuk pada periode tersebut.
Rata-rata sewa mal premium tercatat sekitar Rp621.341 per meter persegi per bulan atau meningkat tipis 0,25% secara kuartalan. JLL memperkirakan tingkat sewa mal premium akan naik sekitar 3% pada tahun ini. (pa/jh. Foto: Dok. Grand Indonesia)


