BusinessUpdate – PT Pertamina International Shipping (PIS) bersama NGO Konservasi Indonesia memanfaatkan teknologi satellite tag untuk memantau pergerakan hiu paus serta mengurangi risiko tabrakan dengan kapal di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen PIS dalam mendorong pelayaran berkelanjutan dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati laut. Hiu paus merupakan salah satu megafauna laut yang hidup berdampingan dengan masyarakat pesisir dan memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“PIS mengoptimalkan pelayaran berkelanjutan dan menjaga keanekaragaman hayati, terutama ekosistem laut, sehingga bisnis dan lingkungan dapat berjalan secara harmonis dan lestari untuk masa depan,” ujar Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita dalam keterangan resmi pada Rabu (9/9/2026).
Hiu paus saat ini menghadapi berbagai ancaman, salah satunya risiko tertabrak kapal yang melintas di wilayah habitat dan jalur migrasinya. Spesies tersebut berstatus Endangered atau terancam punah berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan populasi global disebut telah mengalami penurunan lebih dari 50%.
Dengan tingkat reproduksi yang lambat, para ahli memperkirakan dibutuhkan hingga 100 tahun untuk memulihkan populasi hiu paus ke kondisi ideal. Sebagai salah satu negara yang menjadi habitat penting hiu paus di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga kelestariannya.
Melalui program Whaleshark Tagging yang diinisiasi PIS bersama Konservasi Indonesia, satellite tag dipasang pada hiu paus untuk memperoleh informasi mengenai pola pergerakan dan habitat penting satwa tersebut.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata mengatakan data pergerakan hiu paus dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah mitigasi terhadap potensi interaksi dengan kapal.
“Pemasangan satellite tag dapat memberikan kita informasi pergerakan hiu paus sehingga mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko tabrakan dengan kapal menjadi tidak teridentifikasi dan membahayakan bagi hiu paus,” ujar Iqbal.
Selain teknologi, upaya perlindungan juga dilakukan dengan meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaut mengenai habitat serta jalur pergerakan hiu paus. Informasi tersebut diharapkan membantu pelaut meningkatkan kewaspadaan ketika melewati wilayah yang menjadi habitat spesies tersebut.
Pelaut kapal PIS Capt. Marsel Williem mengatakan informasi mengenai keberadaan hiu paus penting bagi pelaut agar dapat lebih berhati-hati ketika melintasi kawasan yang memiliki potensi interaksi dengan satwa. Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan, peneliti, dan pelaut dapat mendukung keselamatan pelayaran sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem laut.
Menurut Vega, konservasi hiu paus merupakan contoh bagaimana dunia usaha dapat menjadi bagian dari solusi terhadap tantangan lingkungan melalui kolaborasi dan inovasi. (pa/jh. Foto: Dok. PIS)


