BusinesUpdate – PT Petrokimia Gresik (Persero), anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), memperkuat dukungannya terhadap pengembangan bawang merah unggulan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melalui program “Pestani Bawang Merah Nyawiji”.
Menurut Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo produktivitas bawang merah mencapai 20 ton per hektar, meningkat hingga 12% dibandingkan panen sebelumnya sebesar 18 ton per hektar. Adapun, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Oleh karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ini menjadi penting, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga dalam menjaga ketersediaan pangan,” ujar Adityo dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki peran strategis dalam produksi bawang merah nasional. Pada 2024, produksi bawang merah di Jatim mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektar. Sementara itu, produksi bawang merah nasional mencapai 2.085.721 ton dengan luas panen 188.561 hektar.
Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama bawang merah, dan potensi tersebut semakin kuat dengan keberadaan varietas lokal unggulan Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk yang dikenal memiliki kualitas umbi unggul, warna menarik, ukuran seragam, serta daya simpan yang baik.
Nganjuk menempati posisi kedua nasional dari sisi produksi bawang merah, sementara varietas Tajuk menempati posisi nomor satu nasional sebagai benih bawang merah.
Oleh karena itu, melalui program Pestani, pihaknya menghadirkan ruang bagi para petani untuk belajar, berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan praktik budi daya terbaik pada komoditas unggulan daerah. “Semangat tersebut kita bawa melalui Pestani Bawang Merah Nyawiji di Kabupaten Nganjuk dengan mengangkat varietas lokal unggulan, yakni Tajuk,” tambahnya.
Pestani Bawang Merah Nyawiji diikuti 120 petani dari enam kecamatan, yaitu Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Gondang. Rangkaian program berlangsung sejak Maret hingga September 2026 melalui kompetisi budi daya bawang merah secara langsung di lapangan.
Melalui kompetisi tersebut, petani didorong untuk menerapkan praktik budi daya secara lebih optimal, sekaligus menghasilkan bawang merah dengan kualitas yang semakin baik.
Hasil penerapan budi daya tersebut salah satunya ditunjukkan melalui demplot Pestani Bawang Merah Nyawiji. Produktivitas bawang merah pada demplot mencapai 20 ton per hektar, meningkat 11 – 12% dibandingkan panen sebelumnya sebesar 18 ton per hektar.
“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan budi daya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Praktik-praktik terbaik seperti inilah yang ingin terus kami kembangkan dan sebarkan melalui Pestani,” ujar Adityo. (pa/jh. Foto: Dok. Kompas)


