BusinessUpdate – PT. Pertamina (Persero) dan Jababeka Tbk (KIJA) memperkuat kerja sama untuk menciptakan kawasan hijau dan bersih sekaligus implementasi ‘Net Zero Emmision’ melalui pemanfaatan energi bersih, limbah menjadi energi maupun penggunaan hidrogen untuk industri dan transportasi.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT. Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengapresiasi visi industri hijau dan berkelanjutan Jababeka bersama para perusahaan di dalamnya yang telah menunjukkan komitmen maupun aksi nyata menuju industri hijau serta dekarbonisasi.
“Kolaborasi ini telah dirintis sejak 2022 dalam event B-20 Summit dan World Economi Forum G-20 di Davos. Kami berkomitmen melanjutkan skema kerja sama sebagaimana yang telah dirintis dengan fokus pengembangan industri ramah lingkungan, terutama penyediaan energi hijau di Kawasan Industri Jababeka,” kata Agung di Cikarang, Minggu (20/9/2026).
Penguatan kerja sama tahun ini mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC atau gas dari limbah organik yang dapat menggantikan gas bumi, panel surya dan baterai penyimpan listrik hingga kredit karbon, yaitu mekanisme yang memberi nilai ekonomi pada upaya mengurangi emisi.
Pihaknya juga akan menjajaki sektor hidrogen hijau untuk transportasi rendah karbon dalam konsep kota berbasis transportasi umum terintegrasi, sebagai perluasan jenis energi bersih lain, termasuk pengembangan biometana hingga potensi panas bumi.
Ia juga mengapresiasi komitmen para perusahaan atas keberhasilan mengimplementasikan bukti nyata menuju emisi nol bersih atau net zero emission. Seperti Unilever dengan mengembangkan biometana sebagai sumber gas ramah lingkungan bersama PT. Perusahaan Gas Negara (PGN), bagian grup Pertamina.
Perusahaan lainnya adalah Astemo yang sejak tiga tahun lalu mulai memasang panel surya atap berkapasitas 1,2 megawatt dan kini telah menjadi lebih dari 2 megawatt.
Pertamina melalui Pertamina NRE dan PGN siap terus mengembangkan dan memenuhi kebutuhan para tenan dalam melakukan dekarbonisasi. Pihaknya memastikan memberikan dukungan berupa penyelesaian masalah lingkungan seperti mengolah limbah menjadi energi serta pemanfaatan gas dari limbah menjadi hidrogen yang dapat digunakan di kawasan industri maupun sektor transportasi.
“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenan ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasi.sehingga tujuan itu bisa tercapai,” katanya.
Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi menyebut penguatan kolaborasi ini bertujuan membantu perusahaan-perusahaan di kawasannya mengurangi emisi karbon, kawasan lebih bersih, hijau dan nyaman untuk bekerja, tinggal maupun beraktivitas.
Ia mengatakan perusahaan terus melakukan inovasi dan transformasi menuju nol emisi bersih salah satunya melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 230 kWp di instalasi pengolahan air kawasan industri setempat, hasil kerja sama Pertamina NRE.
Sejak beroperasi pada 2023, panel tersebut telah menghasilkan listrik sebesar 858,21 MWh. Menurut data pengelola, jumlah itu setara dengan pengurangan emisi karbon sebesar 734 ton CO2e.
Penggunaan panel surya atap kini juga diikuti perusahaan lain di satu kawasan tersebut. Hingga September 2026, tercatat 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka telah melakukan instalasi dengan total kapasitas 14,5 MWp.
Sebagai pionir pengembang industri swasta pertama Indonesia yang didirikan tahun 1989 oleh 21 pengusaha Nasional di Cikarang, Kabupaten Bekasi, kawasan ini lahir dari konsep industri modern berwawasan lingkungan dan infrastruktur terintegrasi agar memiliki daya saing global untuk menarik investasi ke tanah air.
Pihaknya saat ini mengelola sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara yang sejak awal pembangunan disiapkan sebagai kawasan eko industri modern dan berkelanjutan melalui pengembangan bersama ProLH GTZ di bawah program kerja sama teknis Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan Republik Jerman.
“Menjadikan kawasan industri ini sebagai infrastruktur dasar terlengkap, terintegrasi dan semua didasarkan prinsip keberlanjutan seperti pembangkit listrik swasta pertama menggunakan gas, tidak memakai batu bara sejak 35 tahun lalu, membangun WTP dari air permukaan dan WWTP/IPAL terpadu pertama di tanah air,” ujarnya.
Pihaknya berkomitmen terus menciptakan tata tertib kawasan agar industri yang masuk taat terhadap regulasi dan lingkungan, termasuk pelabuhan darat untuk efisiensi logistik dan pengurangan emisi maupun kendaraan ODOL melalui kereta api ke pelabuhan serta menyiapkan angkutan massal pekerja.
Kawasan industri ini terus tumbuh dalam tiga dekade hingga menjadi pusat industri manufaktur nasional dan diikuti oleh kawasan industri lain dengan menciptakan 1,1 juta lowongan pekerjaan, pendapatan US$35.000 per kapita sekaligus menjadikan Bekasi berkontribusi 22-45% ekspor manufaktur nasional.
Kawasan Industri Jababeka ditetapkan pemerintah sebagai Obyek Vital Nasional melalui Kepres 63/2004, Kepmenperin Nomor 620/2012 dan Nomor 973/2025 menyangkut infrastruktur vital seperti pembangkit listrik, pengolahan air bersih dan air limbah, gas, arus distribusi logistik pelabuhan darat yang tidak boleh terganggu operasional. (rn/jh. Foto: Dok. Jababeka)


