BusinessUpdate – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mengeluhkan mahalnya harga pupuk, sedangkan harga sawit justru dalam tren turun.
“Harga Tandan Buah Segar (TBS) Rp5.000 kami enggak masalah. Tetapi persoalannya, harga pupuk naik, dulunya cuma Rp300.000 per sak (50 kg), sekarang kok Rp1,1 juta-1,2 juta, TBS-nya menurun,” ujar Gulat Medali Emas Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (25/1/2023).
Menurutnya, hanya orang pikun yang mengatakan petani sawit bahagia. Oleh sebab itu Gulat berharap agar pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Perdagangan berlaku adil dan tidak hanya memberikan subsidi untuk minyak goreng saja.
“Seperti kata pak Joko Widodo (Jokowi) setara itu harus seimbang, tidak boleh berpihak. Jangan hanya melihat kepentingan yang satu, tetapi kepentingan yang lain tidak diperhatikan,” ungkap Sahat.
Ia menuturkan, petani sawit selalu dibebani oleh pemerintah untuk terus berproduksi dengan jumlah tinggi, namun di sisi lain pupuk tidak diberikan subsidi. Hal tersebut membuat para petani sawit terus merugi.
Gulat mengatakan sumbangan produksi crude palm oil (CPO) dari petani mandiri semakin turun sejak 2021 menjadi 26%. Pada 2022, petani sawit mandiri hanya mampu menyumbang 23% dari total produksi nasional.
Produksi sawit mandiri diperkirakan semakin turun menjadi 15% pada 2023. Padahal, petani sawit mandiri seharusnya bisa menyumbang sekitar 42% jika dihitung dari luas lahan kebun.
“Kami hanya bisa menyumbang 26% jauh sekali dari harapan, harusnya paling tidak mencapai 42% sesuai dengan luasnya fakta inilah yang menjadi tolak ukur,” ujar Gulat dalam acara Konferensi Pers Kinerja Industri Sawit 2022, di Jakarta, Rabu (25/1/2023).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mengatakan, harga kelapa sawit diprediksi akan naik lagi tahun ini. Namun, ia belum bisa menyebutkan berapa kisaran harga tersebut.
“Harga sawit diprediksi akan naik lagi pada 2023 ini, namun kami belum tahu berapa besaran harga tersebut,” ujar Joko.
Berdasarkan data Gapki, produksi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) 2022 sebesar 46,729 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dari produksi tahun 2021 sebesar 46.888 juta ton.
“Ini merupakan tahun ke-4 berturut-turut dimana produksi cenderung terus turun atau stagnan sejak kelapa sawit diusahakan secara komersial di Indonesia,” tutupnya. (pa/jh)


