BusinessUpdate – Pertamina berencana mencampurkan Pertamax dengan bahan bakar nabati (BBN) bioetanol. Kota pertama yang akan menjadi uji coba penerapan program bauran E5 adalah Surabaya di Jawa Timur.
Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), Pertamina Patra Niaga memproyeksikan kualitas Research Octane Number (RON) 92 atau Pertamax bakal ikut naik setelah dicampurkan dengan bioetanol.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, menerangkan naiknya kadar oktan Pertamax diharapkan dapat menyajikan BBM dengan kualitas lebih baik kepada masyarakat.
“Yang jelas setelah dicampur dia [Pertamax] bisa naik di atas RON 92,” kata Irto, Selasa (28/2/2023). Namun demikian, perseroan masih mempelajari potensi kenaikan harga dari Pertamax hasil bauran dengan BBN bioetanol tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk mencampurkan BBN bioetanol dengan Pertamax. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana, mengatakan keputusan itu diambil lantaran harga pembentuk Pertamax yang berada di level yang sama dengan bioetanol.
“Kalau dicampur di Pertalite kan secara harga pantauan kita Pertalite kan lebih murah ya, kan pertalite itu harganya Rp10.000 kalau bioetanol itu di angka Rp12.000 sampai Rp13.000,” kata Dadan di Jakarta, Senin (20/2/2023).
Rencana awal pencampuran bioetanol dengan porsi 5% dengan BBM RON 90 atau Pertalite dinilai bakal ikut mendongkrak harga bensin subsidi tersebut.
Ia berharap peralihan pencampuran bioetanol dengan Pertamax itu dapat mempercepat implementasi program bauran E5 tersebut. Nantinya porsi Pertamax akan mencapai 95 pada tahap implementasi awal E5 yang ditarget efektif semester pertama 2023.
Kementerian BUMN menargetkan implementasi program E5 dapat terlaksana pada paruh pertama tahun ini. Penyaluran perdana direncanakan berlangsung di pom bensin khusus di Kawasan Surabaya yang berdekatan dengan produsen bioetanol.
Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan distribusi bioetanol membutuhkan proses logistik yang cenderung kompleks jika dibandingkan dengan bahan bakar berbasis fosil. Alasannya, bioetanol cepat busuk lantaran berasal dari batangan tebu. (rn/jh)


