BusinessUpdate – Tahun 2023 ini Pabrik Gula (PG) , Jawa Timur menaikkan nilai bagi hasil petani hingga 70%, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 66%.
Pabrik Gula (PG) Assembagoes memilih menggunakan sistem bagi hasil (SBH) dengan petani setempat karena dinilai mampu memberikan nilai tambah hasil panen tebu sehinghga lebih menguntungkan bagi petani.
General Manager PG Assembagoes Situbondo Mulyono mengatakan, pada musim giling tahun 2023 pihaknya menggunakan sistem bagi hasil atau SBH yakni 70% petani dan 30%n untuk pabrik gula.
“Kalau tahun sebelumnya sistem bagi hasil 66% untuk petani, sedangkan pabrik gula 34%. Tapi musim giling tahun ini 70% petani dan 30% PG,” katanya di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/6/2023).
Selain itu, penambahan pendapatan hasil panen tebu juga didapatkan oleh petani dari harga gula pasir yang sudah dilelang, yakni tahun ini Rp12.000 per kilogram, sedangkan tahun sebelumnya Rp11.500 per kilogram.
“Menurut kami ini lompatan yang luar biasa, karena tahun lalu harga gula pasir yang dilelang dan perolehan petani pada harga Rp11.500, tahun ini naik Rp500 per kilogram,” ujarnya seperti dikutip Bisnis.
Mulyono menjelaskan,harga tebu jika menggunakan sistem pembelian tebu atau beli putus, rata-rata Rp63.000 per kuintal. Rendemen atau kandungan gula dalam batang tebu juga menjadi pendukung baik tidaknya kualitas tebu.
Ia menambahkan untuk pembayaran ke petani, pihak PG sudah memperbaiki. Saat ini pembayaran dilakukan seminggu sekali tiap hari Rabu.
Pabrik Gula Assembagoes Situbondo menargetkan giling tebu pada musim giling tahun ini sebanyak 5 juta kuintal, dengan target produksi gula pasir 37.000 ton, sedangkan rendemen atau kandungan gula dalam batang tebu ditargetkan mencapai 7,6%.
PG Assembagoes saat ini mampu menggiling tebu 3.700 – 3.800 ton per hari, dari kapasitas terpasang giling pabrik gula milik PT Perkebunan Nusantara XI itu mampu hingga 6.000 ton per hari. (pa/jh)


