BusinessUpdate – Asian Development Bank (ADB) bersama PT Cirebon Electric Power (CEP) dan Indonesia Investment Authority (INA) sepakat untuk menghentikan operasional PLTU Cirebon-1 di Jawa Barat pada Desember 2035.
PLTU Cirebon yang berkapasitas 660 megawatt (MW) itu akan pensiun 7 tahun lebih cepat dari yang seharusnya, yaitu Juli 2042. Sementara untuk transaksi ditargetkan akan diselesaikan pada paruh pertama 2024.
Hal ini berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik pembangkit listrik tersebut dan Pemerintah Indonesia di bawah program Mekanisme Transisi Energi (Energy Transition Mechanism/ETM) dari ADB.
ETM merupakan pembiayaan campuran untuk mengakselerasi transisi dari energi fosil ke energi bersih oleh ADB bersama dengan pemerintah, investor swasta, filantropis, dan investor jangka panjang.
Struktur akhir transaksi juga akan menentukan ukuran pembiayaan, tetapi diperkirakan sekitar US$250 juta-US$300 juta.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, yang turut menyaksikan kesepakatan yang berlangsung dalam COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab.
Adapun, PLTU Batu Bara umumnya beroperasi selama 40 tahun atau lebih. PLTU Cirebon-1 mulai beroperasi pada 2012, dengan menghentikan operasi pembangkit listrik ini pada 2035, maka emisi gas rumah kaca yang dihasilkan akan berkurang selama lebih dari 15 tahun.
Presiden ADB, Masatsugu Asakawa, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan Cirebon Electric Power atas ketekunan dan kepemimpinan mereka dalam transisi energi.
Dengan mereplikasi transaksi ini dengan pembangkit listrik lainnya di Asia Pasifik dan sekitarnya, akan mencapai pengurangan emisi karbondioksida yang signifikan.
“Perjanjian kerangka kerja ini merupakan perkembangan penting bagi transaksi ini dan transisi energi Indonesia yang akan menghasilkan pengurangan emisi rumah kaca yang signifikan,” kata Asakawa melalui keterangan resmi ADB, Minggu (3/12/2023).
Asakawa mengatakan, ADB akan terus bekerja sama dengan mitra-mitra di Indonesia dan di seluruh kawasan untuk menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dapat dipensiunkan lebih awal dengan cara yang adil dan terjangkau.
Sementara itu, Presiden Direktur CEP, Hisahiro Takeuchi, mengungkapkan bahwa ETM menyediakan pendekatan inovatif bagi perusahaan seperti CEP untuk melakukan transisi dari batu bara ke energi bersih sambil menyediakan tenaga listrik yang andal dan terjangkau untuk infrastruktur energi di Indonesia.
“Perjanjian kerangka kerja ini merupakan langkah penting untuk menyelesaikan transaksi ini. Kami bangga dapat bekerja sama dengan Bank Pembangunan Asia, PLN, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal [BKPM],” ungkap Takeuchi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan pada dasarnya PLN berkomitmen untuk menjadi yang terdepan dalam transisi energi di Indonesia menuju nol emisi bersih dengan cara yang adil dan terjangkau.
PLN juga telah berupaya keras untuk melakukan dekarbonisasi dengan membatalkan 13,3 GW PLTU batubara yang telah direncanakan, mengakhiri perjanjian jual beli listrik PLTU Batubara sebesar 1,3 GW, dan menghentikan pembangunan PLTU Batubara yang baru. (ip/jh)


