Business Update – BPJS Kesehatan melayani puluhan juta bahkan mendekati seluruh populasi Indonesia. Hal ini berarti data kepesertaan, klaim, pembayaran, riwayat kesehatan dan data interaksi lainnya sangatlah besar. Untuk itu BPJS perlu melakukan Intelligence Transformation, mengelola dan mendapatkan insight dari data sebesar ini.
Intelligence Transformation tidak lagi menjadi kemewahan, melainkan kewajiban strategis bagi BPJS Kesehatan agar bisa menjalankan mandatnya secara optimal, efisien, dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Edwin Aristiawan menjelaskan bahwa sebagai penyelenggara program jaminan kesehatan, BPJS Kesehatan memiliki langkah strategis TI menuju Intelligence Transformation.
“Ada beberapa langkah Strategis TI BPJS Kesehatan menuju Intelligence Transformation,” ucap Edwin dalam wawancara penjurian Indonesia Digital Technology and Innovation Awards 2025, Jumat (23/05).
Adapun langkah strategis TI menuju Intelligence Transformation antara lain :
- Strategi Anggaran TI
Beralih ke model OPEX untuk Infrastruktur TI dalam upaya efisiensi biaya dan fleksibilitas - Transformasi Digital
Transformasi digital di semua lini mencakup sistem informasi internal, layanan kesehatan, dan stakeholder terkait - Kepatuhan & Tata Kelola TI
Komitmen terhadap keamanan dan kepatuhan untuk meningkatkan integritas data, dan keberlanjutan teknologi di sektor layanan kesehatan - Adopsi Lanskap AI sejak tahun 2024 BPJS Kesehatan telah aktif
mengadopsi teknologi AI dan terus ditingkatkan dengan fokus pada efisiensi operasional dan kualitas layanan – Prioritas & Fokus TI Tahun 2025 dst
Prioritas terhadap Keamanan, Data, dan Transformasi Digital. Perluasan penerapan AI serta implementasi teknologi baru seperti Blockchain.
Tanpa langkah tersebut, BPJS berisiko tertinggal dalam pengelolaan data yang masif, kehilangan potensi peningkatan efisiensi, dan kurang responsif terhadap kebutuhan pesertanya.
Langkah ini juga dapat dikatakan fondasi bagi BPJS untuk bisa lebih efisien, responsif, proaktif, dan berorientasi pada peserta. Langkah tersebut akan memungkinkan BPJS untuk tidak hanya mengelola jaminan sosial melainkan juga memberikan nilai yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.
Sebagai penutup penjurian, Edwin mengatakan bahwa, “Para dewan juri ini sangat humble, pertanyaannya juga tajam sebenarnya tetapi alhamdulillah pertanyaan-pertanyaan ini menginspirasi saya untuk melengkapi kompetensi-kompetensi digital. Saya juga berharap platform-platform digital BPJS Kesehatan dapat diketahui masyarakat, jangan sampai kita sudah buat, ternyata banyak yang belum tahu. Sekarang tugas kita adalah karena sudah cukup banyak hal-hal yang kita buat seperti JKN Mobile kita tentu juga berfokus terhadap pemanfaatannya jadi bukan hanya dibuat, kelempar, selesai. Tidak, tapi adalah pemanfaatannya.”


