BusinessUpdate – Pengelola restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST), mampu menekan rugi tahun berjalan sepanjang 2025 menjadi Rp369 miliar atau menurun 53,7% secara tahunan (yoy) di tengah tekanan likuiditas.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Senin (20/4/2026), manajemen mencatat posisi liabilitas jangka pendek sebesar Rp1,99 triliun yang melampaui aset lancar Rp667,89 miliar per akhir 2025. Kondisi tersebut terjadi saat perseroan juga mencatat akumulasi kerugian mencapai Rp507,62 miliar.
Dari sisi kinerja FAST, pendapatan relatif stagnan di level Rp4,88 triliun pada 2025, naik tipis dibandingkan Rp4,87 triliun pada 2024. Namun, tekanan beban operasional membuat perseroan masih mencatat rugi usaha Rp311,66 miliar, meski membaik dari rugi usaha Rp784 miliar pada tahun sebelumnya.
Setelah memperhitungkan beban keuangan dan pos lain, rugi sebelum pajak tercatat Rp397,54 miliar. Alhasil, rugi tahun berjalan FAST yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp366,04 miliar, membaik dibandingkan rugi Rp796,71 miliar pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset perseroan melonjak menjadi Rp4,94 triliun dari Rp3,52 triliun pada 2024, terutama ditopang peningkatan aset tetap dan aset tidak lancar lainnya. Namun, lonjakan aset tersebut diiringi kenaikan liabilitas menjadi Rp4,51 triliun dari Rp3,4 triliun.
Ekuitas FAST tercatat Rp435,85 miliar, meningkat dari Rp127,73 miliar, ditopang surplus revaluasi tanah. Laporan auditor independen menilai kondisi rugi berulang, defisit modal kerja, serta tekanan likuiditas menjadi indikator utama yang dapat menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemampuan pengelola KFC Indonesia dalam mempertahankan kelangsungan usaha.
Di sisi lain, perseroan juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan risiko kredit, tecermin dari piutang lain-lain yang mencapai Rp320 miliar sebelum pencadangan kerugian kredit ekspektasian. (ip/jh. Foto: Dok. FAST)


