HomeCORPORATE UPDATEBUMNSemester I/2026 KAI Layani 3.437.795 Ton Peti Kemas

Semester I/2026 KAI Layani 3.437.795 Ton Peti Kemas

BusinessUpdate – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sepanjang Januari–Juli 2026, KAI melayani 3.437.795 ton petikemas, meningkat 20,28% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 2.858.244 ton.

Peningkatan tersebut juga terlihat pada capaian bulanan. Pada Juli 2026, volume petikemas yang dilayani KAI mencapai 521.892 ton, naik 22,80% dibandingkan Juli 2025 sebanyak 424.999 ton.

Pertumbuhan angkutan petikemas menunjukkan meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap moda logistik berkapasitas besar, terjadwal, dan terhubung dengan kawasan industri, terminal petikemas, pergudangan, serta pelabuhan. Sebagian besar muatan petikemas berkaitan dengan produk manufaktur, bahan baku industri, barang konsumsi, dan berbagai komoditas yang membutuhkan kepastian distribusi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan angkutan petikemas memiliki posisi strategis dalam menjaga kelancaran arus barang dari pusat produksi menuju pelabuhan, pusat distribusi, dan wilayah pemasaran.

ā€œPertumbuhan volume petikemas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api dalam rantai pasoknya. KAI terus memperkuat konektivitas antara kawasan industri, terminal petikemas, dan pelabuhan agar distribusi produk manufaktur berlangsung semakin efisien, terjadwal, dan memiliki kepastian waktu,ā€ ujar Anne dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (4/8/2026).

Bagi sektor manufaktur, kelancaran logistik sangat menentukan keberlangsungan produksi. Keterlambatan bahan baku dapat memengaruhi jadwal pabrik, sedangkan keterlambatan produk jadi dapat menghambat distribusi menuju pasar. Dalam kondisi tersebut, angkutan petikemas berbasis rel menjadi salah satu pilihan untuk menjaga kestabilan arus barang dalam volume besar.

Peran tersebut semakin strategis ketika layanan kereta api terhubung dengan pelabuhan. Petikemas dari kawasan industri dapat dibawa melalui jalur rel menuju terminal petikemas dan pelabuhan, kemudian diteruskan menggunakan kapal menuju berbagai wilayah Indonesia. Sebaliknya, bahan baku dan komoditas yang tiba melalui pelabuhan dapat diteruskan menggunakan kereta api menuju kawasan industri, pergudangan, dan pusat distribusi.

ā€œKonektivitas antara kereta api dan pelabuhan membantu membangun arus barang yang lebih teratur. Produk manufaktur dapat dibawa dalam volume besar dari kawasan industri menuju pelabuhan, kemudian diteruskan melalui jalur laut menuju berbagai pulau,ā€ kata Anne.

Integrasi rel dan pelabuhan berpotensi mengurangi perjalanan truk jarak jauh, menekan kepadatan jalan, mempercepat perpindahan barang, serta memberikan kepastian jadwal bagi industri. Manfaat tersebut akan semakin kuat apabila didukung akses rel menuju pelabuhan, terminal petikemas yang memadai, fasilitas bongkar muat, pergudangan, serta digitalisasi dokumen dan layanan.

Karena itu, peningkatan kapasitas infrastruktur logistik perlu dilakukan secara terintegrasi. Pengembangan jalur dan terminal barang perlu berjalan bersama penguatan pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, layanan pelayaran, dan angkutan lanjutan agar perjalanan petikemas dari hulu hingga hilir berlangsung semakin efisien.

KAI terus meningkatkan kapasitas layanan petikemas, mengoptimalkan terminal barang, memperkuat digitalisasi, serta mengembangkan kolaborasi dengan operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, pengelola kawasan industri, pergudangan, dan pelaku logistik.

Penguatan tersebut juga diarahkan untuk menciptakan arus barang dua arah yang lebih seimbang. Petikemas dari Jawa banyak membawa produk manufaktur dan barang konsumsi ke berbagai daerah, sedangkan muatan balik belum selalu tersedia dalam volume yang sama.

Kondisi petikemas yang kembali tanpa muatan dapat meningkatkan biaya distribusi. Karena itu, konsolidasi komoditas daerah, penguatan pusat produksi, dan pembukaan akses pasar bagi produk lokal menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas perjalanan.

Petikemas yang berangkat membawa produk manufaktur dapat kembali membawa hasil pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, dan produk UMKM dari daerah tujuan. Pemanfaatan muatan dua arah dapat membantu menekan biaya distribusi sekaligus memperluas pasar bagi produk daerah. (ip/jh. Foto: Dok KAI)

Must Read