BusinessUpdate – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatat pendapatan bersih Rp4,12 triliun di kuartal III/2026, meningkat 55,45% secara tahunan (yoy) dibanding periode sama 2025 yakni Rp2,65 triliun.
“Perseroan juga menorehkan gross profit Rp1,13 triliun pada kuartal III/2026, naik Rp634,99 miliar atau 127,82% dibanding periode sama di tahun sebelumnya Rp496,8 miliar,” kata Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Pada periode tersebut, perseroan juga mencetak laba usaha Rp596,24 miliar, yang naik Rp569,82 miliar atau bertumbuh 2157,14% dibanding periode sama di tahun sebelumnya Rp26,41 miliar. Dengan begitu, perseroan mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) senilai Rp810,25 miliar, atau naik Rp709,96 miliar (707,86%) dibanding periode sama di tahun sebelumnya Rp100,29 miliar.
Jika dirinci, kenaikan pendapatan bersih perseroan Rp1,47 triliun atau 55,45% tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan sejumlah unit usaha yakni pendapatan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group yang naik Rp348,09 miliar (48,6%), PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group yang naik Rp434,65 miliar (26,1%) dan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group yang naik Rp678,87 miliar (248,3%).
Sementara itu, Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR A. Ardiansyah Bakrie menjelaskan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk Group berhasil menorehkan pendapatan bersih Rp1,06 triliun, naik Rp348,09 miliar atau 48.6% dibanding periode sama di tahun sebelumnya Rp716,9 miliar. Kenaikan ini berasal dari peningkatan penjualan EV dan kenaikan penjualan di PT Bakrie Autoparts Group.
Sedangkan pendapatan PT Bakrie Metal Industries Group ditopang oleh meningkatnya pendapatan BMI Parent sebesar 24,2%, BPI Parent sebesar 18,8%, PT Suluh Ardhi Engineering (SAE) naik 1730,3% dan PT Bakrie Construction (Bcons) naik 36%.
Sementara itu, PT Bakrie Indo Infrastructure berhasil membukukan pendapatan bersih Rp952,25 miliar, naik Rp 678,87 miliar atau 248.3%, yang merupakan dampak konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) di 2026.
Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti meyakini bahwa perseroan mampu mencetak pertumbuhan jangka panjang. Optimisme ini didorong oleh struktur keuangan yang semakin kuat, proyek infrastruktur strategis seperti jalan tol dan jaringan pipa minyak dan gas bumi, serta ekspansi di sektor industri masa depan seperti elektrifikasi transportasi, energi berkelanjutan, waste-to-energy (WtE) dan energi hijau lainnya. Langkah ini diyakini mendatangkan nilai tambah bagi pemegang saham sekaligus mendukung pembangunan nasional.
“Meski demikian, perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” tutup Roy. (ip/jh. Foto: Dok. VKTR)


