BusinessUpdate – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memperkirakan tren pembiayaan di segmen konsumer menjadi motor pembiayaan perseroan tahun ini. Pembiayaan di segmen konsumer pun terus meningkat berkat strategi jitu yang diterapkan perseroan.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan pada awal merger komposisi pembiayaan di segmen konsumer sekitar 52,32%. Menurutnya skema cicilan tetap dan pasti diperkirakan menjadi daya tarik nasabah untuk mengambil pembiayaan dari BSI.
“Strategi ini tepat karena BSI dapat menjaga kualitas serta profitabilitas yang tetap positif dalam kondisi ekonomi yang cukup menantang,” ujarnya melalui keterangan resmi, Minggu (24/8/2025).
Pembiayaan di segmen konsumer di bank syariah memiliki karakter unik di mana setiap pembiayaan harus didasari underlying asset dan juga akad dengan skema cicilan tetap atau cicilan pasti baik seperti akad murabahah. “Karena akad syariah dan skema cicilan bersifat tetap atau pasti, nasabah jadi lebih nyaman,” jelasnya.
Terlebih untuk pembiayaan rumah atau payroll yang memiliki tenor panjang. Ia mengatakan ketika suku bunga bank di market naik, nasabah di bank syariah bisa tetap tenang karena cicilan mereka bersifat tetap.
’’Kepastian angsuran hingga akhir pembiayaan, serta pilihan jangka waktu yang variatif memberikan kenyamanan bagi nasabah dalam mengatur cashflow keuangan agar pembiayaan lancar,” imbuhnya.
Berbeda dengan skema di bank konvensional di mana angsuran nasabah dapat berubah bergantung pada kondisi pasar. Dengan skema tersebut, pembiayaan syariah terutama di segmen konsumer tetap dapat bertumbuh meski tekanan ekonomi cukup menantang.
Hingga kuartal I/2025, BSI membukukan pembiayaan mencapai Rp287,20 triliun tumbuh 16,21% secara tahunan (yoy). Pembiayaan tersebut memiliki kualitas baik dengan non-performing financing (NPF) gross terjaga di posisi 1,88%.
Dari jumlah tersebut, sebesar 54,56% merupakan pembiayaan konsumer dengan produk pembiayaan berupa pembiayaan pemilikan rumah (griya), pembiayaan kepemilikan kendaraan, pembiayaan berbasis payroll baik pegawai negeri dan swasta, pembiayaan kepada pensiun, serta cicil dan gadai emas.
Hingga kuartal I/2025, pembiayaan di bank syariah masih tumbuh 16%—17%. BSI juga optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis dengan seimbang baik dari sisi pendanaan maupun pembiayaan.
BSI optimistis dapat menjaga pembiayaan tumbuh positif karena berdasarkan hasil survei tahun 2024, terdapat peningkatan preferensi masyarakat terhadap keuangan syariah (sharia preference).
Terdapat peningkatan kelompok Universalis (mereka yang akan memilih bank syariah jika fasilitas dan benefitnya setara dengan bank konvensional) menjadi 30% dari semula 25,6% dan kelompok konformis (mereka yang memilih berbank syariah saja) yang juga meningkat menjadi 29,1% dari semula 20,6%.
Populasi preferensi syariah 59,1% ini menjadi potensi yang sangat besar untuk dirangkul BSI. Namun, BSI menyadari bahwa aspek syariah bukan satu-satunya alasan nasabah untuk memilih bank syariah.
Margin yang kompetitif juga menjadi faktor penentu. BSI menawarkan berbagai promo program dan margin kompetitif kepada nasabah. Saat ini perseroan juga terus mendorong instrumen keuangan syariah sebagai motor penggerak ekonomi nasional. (ip/jh. Foto: Dok. BSI)


