BusinessUpdate – Manajemen PT AXA Mandiri Financial Services membantah berita yang beredar di media sosial bahwa perseroan mendukung Israel terkait konflik negeri itu dengan pejuang Hamas.
Sebagai informasi, di media sosial produk Asuransi AXA masuk dalam daftar Boycott, Divestment, & Sanctions atau BDS Movement.
Chief Communication Officer AXA Mandiri Financial Services Atria Amino Rai menyatakan, AXA Group tidak mendukung agresi militer. Ia memastikan, AXA Group bukan merupakan produk yang mendukung Israel atau bukan pro Israel.
“Dari AXA Group bahwasanya tidak benar kabar yang dikeluarkan DBS, bahwa kami mendukung agresi militer atau pendudukan teritori di Israel,” kata Atria di Jakarta usai konferensi pers AAJI, Rabu (29/11/2023).
Atria menekankan bahwa AXA Group melakukan bisnis dan produk yang dikeluarkan sudah sangat mematuhi (comply) dengan semua aturan yang juga mengikuti norma-norma internasional, khususnya dalam penegakan hak asasi manusia (human rights).
“Jadi berita itu [masuk dalam list DBS] tidak benar, dan sama sekali AXA tidak mendukung adanya agresi militer, dan kami sangat comply dalam melakukan bisnis, termasuk produk dan lainnya itu sesuai dengan peraturan yang berlaku maupun dari undang-undang internasional dan penegakan hak asasi manusia. Tidak sama sekali, tidak sama sekali [pro Israel],” jelasnya.
Gerakan aksi boikot terhadap perusahaan yang terkait atau mendukung Israel secara global dijalankan melalui BDS Movement. Produk ini terbagi menjadi empat bagian, yakni consumer boycott targets, divestment targets, pressure (non-boycotts) targets, dan organic boycott targets.
Consumer boycott target merupakan aksi boikot sepenuhnya terhadap sebuah produk karena rekam jejak perusahaan pemilik produk yang telah terbukti mendukung Israel. Beberapa perusahaan yang termasuk dalam kategori boikot ini diantaranya adalah Siemens, Puma, Carrefour, AXA, Hewlett Packard atau HP, dan lainnya.
Sedangkan, divestment targets adalah aksi menekan pemerintah, institusi, dan lembaga investasi untuk mengeluarkan investasinya (divestasi) dari perusahaan-perusahaan yang terbukti terlibat mendukung pendudukan Israel terhadap Palestina.
Perusahaan-perusahaan ini berada di beragam sektor, mulai dari perbankan, manufaktur, hingga produsen senjata api. Sejumlah perusahaan yang termasuk dalam sasaran divestment targets di antaranya HD Hyundai, Volvo, Barclays, Chevron, CAF, dan lain-lain.
Sementara itu, pressure (non-boycott) targets merupakan gerakan untuk mendukung sebuah produk atau layanan untuk mengakhiri dukungannya secara langsung kepada Israel. Produk atau layanan yang termasuk pada kategori ini belum secara langsung diboikot oleh lembaga BDS Movement. Google, Amazon, Airbnb, Expedia, dan Disney merupakan beberapa contoh entitas yang masuk dalam kategori boikot ini.
Adapun, organic boycott targets adalah sasaran boikot produk atau layanan yang tidak secara langsung dilakukan oleh BDS. Namun, BDS Movement mendukung adanya boikot terhadap produk atau layanan tersebut karena dukungannya terhadap genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Beberapa contoh sasaran boikot pada kategori ini adalah McDonald’s, Burger King, Pizza Hut, Papa John’s. dan lainnya. (rn/jh)


