HomeCORPORATE UPDATEBUMNCapex Pertamina Hulu Energi pada 2023 Melonjak Drastis

Capex Pertamina Hulu Energi pada 2023 Melonjak Drastis

BussinessUpdate – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$5,7 miliar (Rp86,26 triliun) pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2023. 

Besaran capex  itu naik 78,12% dari realisasi anggaran sepanjang 2022 sebesar US$3,2 miliar (Rp48,47 triliun).  Porsi alokasi belanja modal untuk rencana merger dan akuisisi PHE tercatat naik signifikan ke level US$1,5 miliar (Rp22,7 triliun) pada tahun ini. 

Padahal, realisasi anggaran yang digunakan untuk merger dan akuisisi pada 2021 hanya  US$41 juta dan 2022 hanya US$27 juta.  

“Anggaran tersebut diperuntukkan untuk kegiatan pengeboran, tahun 2023 mencapai 943 sumur pengembangan atau naik 73%,, 32 sumur eksplorasi, 688 workover dan 30.159 well intervention well services,” kata Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Wiko Migantoro saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (7/2/2023).  

Melalui lonjakan capex itu, Pertamina berharap terjadi penambahan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 5% pada tahun ini jika dibandingkan dengan torehan tahun lalu.  

Produksi minyak mentah tahun ini ditargetkan dapat naik ke level 595 MBOPD dari angka tahun lalu di angka 566 MBOPD. Sementara itu, produksi terangkut atau lifting minyak tahun ini ditarget 590 MBOPD atau naik 4% dari realisasi 2022 di level 565 MBOPD.  

Di sisi lain, produksi gas nasional diharapkan naik ke angka 2.763 MMCFD dari posisi tahun sebelumnya 2.624 MMCFD. Sementara produksi gas terangkut dipatok 1.891 MMCFD atau naik 1% dari torehan 2022 di angka 1.870 MMCFD.  

Strategic project 2023 pengembangan Rokan dengan potensi penambahan cadangan 77,3 juta barel minyak dengan 717 sumur pengeboran selama 4 tahun,” katanya.  Selain itu,  PHE juga turut berupaya mengembakan lapangan Offshore-North West Java, Mahakam, Sanga Sanga yang masih berpeluang untuk ditingkatkan mendatang.  

Saat ini Pertamina mengelola produksi migas sebesar 1,02 juta BOEPD dari 65 blok migas yang berada di dalam negeri dan internasional dengan besaran cadangan P1 yang dikelola mencapai 2,2 BBOE.  

Namun PHE melaporkan sejumlah lapangan tua yang saat ini dikelola Pertamina mengalami penurunan produksi alamiah atau declined rate lebih dari 50%.  Sejumlah WK yang tercatat mengalami penurunan produksi signifikan itu di antaranya Rokan, Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS). 

PHE juga melaporkan sejumlah lapangan yang berhasil menorehkan produksi melebihi target berasal dari WK Offshore North West Java (1,7 MBOPD), PEP Jatibarang (0,9 MBOPD), PT Pertamina Hulu Mahakam (1,3 MBOPD & 30 MMCFD), JOB Tomori (22 MMCFD) dan Corridor (6 MMCFD). 

PHE memproyeksikan produksi migas subholding hulu Pertamina hingga akhir 2022 dapat menyentuh di angka 808 MBOEPD. Torehan itu berasal dari perolehan produksi minyak sebesar 418 MBOPD dan gas di kisaran 2.256 MMCFD.  (rn/jh)

Must Read