Business Update – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menunjukkan komitmen yang kuat dalam menerapkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam strategi bisnis perusahaan. Hal ini dijelaskan secara rinci dalam sesi Wawancara Penjurian ajang bergengsi Indonesia CSR Brilliance Awards 2026, Jumat (24/04/2026).
Delegasi TTL dihadiri oleh jajaran manajemen penting agar dapat memastikan bahwa pendekatan dan implementasi program tersebut disampaikan secara optimal kepada dewan juri.
Delegasi PT Terminal Teluk Lamong:
1. David Pandapotan Sirait selaku Direktur Utama
2. Syaiful Anam selaku Senior Manager Sekretaris Perusahaan dan Hukum
3. Dahlia Permata Sari selaku Manager Komunikasi Korporat
Dalam penjelasannya, TTL mengangkat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada pengembangan kelompok pengolah kedelai. Bekerja sama dengan SPMT dan FKS, program ini menyasar masyarakat di wilayah Ring 1 untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, adapun ruang lingkupnya Dahlia mengatakan TTL membagi lokasi pemberdayaan berdasarkan kedekatan operasional dan kebutuhan spesifik komunitas, antara lain Kota Surabaya yang mencakup:
1. Kelurahan Tambak Osowilangun (2 Kelompok)
2. Kelurahan Romokalisari (1 Kelompok)
3. Kelurahan Tambak Sarioso (2 Kelompok), kemudian
4. Kabupaten Gresik, Desa Karangkiring (1 Kelompok)
Sedangkan terkait Goals dan Target Pendampingan, Dahlia menyebut program ini tidak hanya memberikan bantuan modal, namun juga dirancang secara holistik melalui empat pilar utama:
1. Meningkatkan Kapasitas dan Kualitas Produksi dimana TTL memastikan produk olahan kedelai masyarakat memenuhi standar pasar.
2. Mendorong Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas, TTL memperkuat jejaring antar-kelompok pengolah agar tercipta ekosistem usaha yang tangguh.
3. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial, TTL dengan mengintegrasikan program CSR ini dapat menjadi wadah untuk meningkatkan taraf hidup warga sekitar pelabuhan.
4. Membangun Tata Kelola yang Berkelanjutan, TTL menerapkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program sesuai prinsip ESG.
Selain itu pemilihan tempat dan kelompok dilakukan dengan cara yang terencana, memperhatikan kesiapan masyarakat dan hubungan kerja yang dekat.
TTL ingin memastikan keberadaan Terminal Teluk Lamong dapat memberikan dampak positif yang lebih besar bagi perekonomian daerah, terutama bagi para pengrajin tempe dan produk olahan kedelai lainnya.
Terakhir, dalam penutup penjurian Dahlia menyampaikan bahwa “Sebenarnya dari segi pertanyaan, kami merasa seperti dapat konsultan gratis. Rekomendasinya luar biasa dan bikin kami sadar kalau program ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Hampir semua juri memberikan pertanyaan yang tidak terduga. Pak Haris menyoroti soal kolaborasi program untuk men-support MPK dan Koperasi Merah Putih; ternyata jangkauannya bisa sampai ke sana. Kemudian Pak Elfien terkait menggali direct impact terhadap lingkungan, seperti zero emission dan penyerapan karbon dan Pak Haryono memberikan masukan dari sisi akademisi soal pentingnya customer experience serta melibatkan peran influencer dan Gen Z.
Intinya, dari para juri ini kami mendapat banyak masukan berharga untuk meningkatkan program kami agar lebih kuat dan berkelanjutan ke depannya.” (kiy)


